bnrt

Tampilkan postingan dengan label Tasawwuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawwuf. Tampilkan semua postingan

Dzikir dalam Ajaran Hindu, Kristen, Sikh & Islam

Selasa, 05 Juni 2012


Ditulis Oleh: Quito Riantori Mortinggo

Ternyata ajaran Zikir tidak hanya ada di dalam agama Islam saja. Di dalam hampir semua agama, ternyata ada doktrin Mengingat (zikir) Tuhan. Misalnya agama Hindu, di dalam Kitab Bhagavad Gita tercantum ajaran suci ini sebagaimana disebutkan di dalam edisi Bahasa Inggerisnya :

“I am easily attainable by that ever steadfast Yogi who constantly remembers Me daily, not thingking another, O Partha!” (Bhagavad Gita VIII – 14) Yang mungkin dapat diterjemahkan : “Aku dengan mudah dapat dicapai melalui ketabahan Yogi yang secara langgeng mengingat-Ku setiap hari dan tiada memikirkan yang lain, wahai Partha!”

Ajaran Hindu mengistilahkan mengingat Tuhan dengan istilah Smarana.

Di dalam ajaran Hindu, ajaran mengingat Tuhan ini diajarkan untuk dipraktekkan secara terus menerus sepanjang hidup seseorang sebagai Jalan Keyakinan untuk mencapai DIA.

Seseorang yang senantiasa mengingat-Nya selama enam bulan dan meninggalkan praktek tersebut untuk sementara, kemudian kembali melanjutkan praktek mengingat-Nya selama enam bulan lagi dan begitu seterusnya tidak akan dapat mencapai DIA. Mengingat-Nya harus dilakukan secara kontinyu tanpa henti dan tiada mengenal waktu, keadaan dan tempat.

Di dalam Ajaran Hindu, praktek mengingat Tuhan juga termasuk mendengarkan kisah-kisah yang berkaitan dengan Tuhan, membicarakan tentang Dia, mengajarkan kepada orang lain tentang Dia dan melakukan meditasi tentang sifat-sifat-Nya secara terus menerus.

Smarana adalah ajaran untuk mengingat nama dan sifat-sifat-Nya dengan tidak putus-putus. Pikiran harus dibersihkan dari obyek apapun dari dunia.

Smarana adalah suatu keadaan dimana pikiran menjadi terpikat oleh Kemuliaan Tuhan semata.

Praktek Smarana ini tidak dibatasi oleh waktu-waktu tertentu. Tuhan harus senantiasa diingat di setiap saat tanpa terputus sepanjang seseorang masih dalam kesadarannya yang utuh. Dimulai dari bangun tidur di pagi hari sampai seseorang kembali tidur setelah dirinya merasakan penat di malam hari.

Di dunia ini seseorang tidak memiliki kewajiban lainnya selain Mengingat Tuhan. Mengingat Tuhan semata dapat menghancurkan semua tekanan-tekanan duniawi. Mengingat Tuhan semata dapat mengalihkan pikiran kita dari obyek-obyek pikiran.


Mengingat Tuhan adalah metoda Sadhana yang sangat sulit. Adalah tidak mungkin mengingat-Nya setiap saat secara kontinyu. Pikiran sering memperdaya seseorang. Seseorang bisa saja berpikir bahwa dirinya sedang bermeditasi atas Tuhan tetapi aktualnya dia sedang memikirkan beberapa obyek dunia ini atau memikirkan untuk mendapat nama dan ketenaran atau kemasyhuran.

Demikianlah ajaran Hindu mengajarkan doktrin Smarana atau Mengingat Tuhan. Anda bisa lihat lebih jauh lagi tentang ini di:(www.divinelifesociety.org/discourses/s.../practise_of_the_remenbrance_of _god.htm)

Di dalam ajaran Sikh Darma pun, Sang Guru menyuruh manusia untuk mengingat Tuhan di setiap tarikan nafasnya dan mengatakan bahwa penyakit ruhani akan datang kepada manusia pada saat ia melupakan Tuhan. Sang Guru berkata:

“All afflictions visit the person who forget God’s name”

“Semua penderitaan akan datang mengunjungi seseorang yang melupakan nama Tuhan”

“When i repeat His name i am alive, when i forget to do so i die”

“Ketika saya mengulang-ulang menyebut nama-Nya maka akupun hidup, (sebaliknya) ketika aku lupa melakukan hal itu maka aku pun mati”

Demikian Guru-guru Sikh mengajarkan doktrin Mengingat Tuhan. (www.sikh-dharma.org.uk)

Ajaran Mengingat Tuhan juga termaktub di dalam The Gospel of Barnabas (Injil Barnabas) pasal 109 seperti yang tertulis di dalam Edisi Inggerisnya :


“As God liveth, in whose presence standeth my soul, it is lawful to sleep somewhat every night, but it is never lawful to forget God and his fearful judgement: and the sleep of the souls is such oblivion.'

Then answered he who writeth: `O master, how can we always have God in memory? Assuredly, it seemeth to us impossible.'

Said Jesus, with a sigh: `This is the greatest misery that man can suffer, O Barnabas. For man cannot here upon earth have God his creator always in memory; saving them that are holy, for they always have God in memory, because they have in them the light of the grace of God, so that they cannot forget God. But tell me, have ye seen them that work quarried stones, how by their constant practice they have so learned to strike that they speak with others and all the time are striking the iron tool that worketh the stone without looking at the iron, and yet they do not strike their hands? Now do ye likewise. Desire to be holy if ye wish to overcome entirely this misery of forgetfulness. Sure it is that water cleaveth the hardest rocks with a single drop striking there for a long period.


Do ye know why ye have not overcome this misery? Because ye have not perceived that it is sin. I tell you then that it is an error, when a prince giveth thee a present, O man, that thou shouldst shut thine eyes and turn thy back upon him.

Even so do they err who forget God, for at all times man receiveth from God gifts and mercy.'

Yesus berkata : “Demi Allah yang aku berdiri di hadapan-Nya bahwa tidur sejenak tiap malam itu dibolehkan, akan tetapi sama sekali tidak dibolehkan melupakan Allah dan Hari Pembalasan-Nya yang dahsyat itu. Sedang tidurnya roh itu tiada lain hanya kelupaan”

Bertanyalah yang menulis ini (Barnabas) : “Wahai Guru, bagaimanakah kita dapat selalu mengingat Allah? Bagi kami, hal itu nampaknya mustahil”

Sambil menarik nafas panjang Yesus menjawab, “Sebenarnya itu adalah sebesar-besarnya kesengsaraan yang diderita oleh manusia wahai Barnabas! Karena di sini di bumi ini manusia tidak bisa secara terus menerus ingat kepada Allah Penciptanya, kecuali para manusia suci.

Mereka terus menerus mengingat Allah, karena pada diri mereka ada cahaya nikmat Allah sehingga mereka tidak bisa melupakan-Nya. Akan tetapi katakanlah padaku, ‘Adakah kamu lihat mereka yang bekerja mengeluarkan batu-batu dari gunung, betapa dengan kebiasaan yang terus menerus mereka bisa memukul sambil bercakap-cakap dengan pukulan besi di atas batu tanpa melihatnya dan tanpa mengenai tangan mereka? Maka berbuatlah kamu sedemikian itu.

Bercita-citalah untuk menjadi manusia manusia suci jika kamu benar-benar menginginkan untuk mengalahkan kesengsaran lalai itu. Maka dapat dipastikan bahwa air itu bisa melubangi batu yang paling keras (sekalipun) dengan tetesan air yag jatuh di atasnya berulang kali dalam waktu yang lama.

Tahukah kamu mengapa kamu tidak bisa mengalahkan kesengsaraan itu? Karena kamu belum mengerti bahwa itu (lalai dari mengingat-Nya) adalah suatu dosa! Dari itu kukatakan kepadamu wahai insan! Bahwa sungguh suatu kesalahan apabila engkau diberi oleh seorang Raja suatu anugerah namun engkau malah memejamkan kedua matamu dan kamu palingkan wajahmu daripadanya. Begitulah (perumpamaan) kesalahan mereka yang lalai dari mengingat-Nya. Karena (sesungguhnya) manusia itu secara terus menerus menerima karunia-karunia dan nikmat dari Tuhan” (Injil Barnabas Pasal 109)

Juga di dalam Perjanjian Lama , Nehemiah 4 : 14 pun tertulis :

“After i looked these things over, i stood up and said to the nobles and the officials and rest of the people, ‘Do not be affraid of them. Remember the Lord, who is great and awesome and fight for your kin, your son, your daughters, your wives and your homes”

“Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: "Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah Tuhan Yang Maha Besar dan Dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.”

Di dalam al-Quran, kata adz-dzikr disebutkan sebanyak 285 kali dalam berbagai bentuk. 18 kata di antaranya berarti laki-laki (dzukuur). Di samping kata dzikr, dalam al-Qur’an juga terdapat kata muddakkir (memakai huruf dal), yang oleh Muhammad Fuad al Baqi, (penyusun Kitab al-Mu’jam al-Mufahras) dimasukkan dalam kelompok kata dzikr.

“Sungguh, berzikir kepada Allah itu adalah perkara yang teramat besar!”
(QS Al-Ankabut [29] ayat 45)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah…

Lebih Mudah Mengenal Tuhan


Mukaddimah

Berbagai argumentasi telah ditulis, dihimpun dan disampaikan oleh para filosof Ilahi dan para ulama Kalam untuk membuktikan wujud Tuhan Pencipta. Pembahasan ini dibahas dalam kitab-kitab Filsafat dan Kalam secara jeluk. Pada pembahasan berikut ini, kami akan memilih sebuah argumen saja dari sekian banyak argumen tersebut. Argumen ini berlandaskan pada premis-premis yang lebih minim, sehingga lebih mudah untuk dipahami. Namun demikian, argumen ini nampak lebih kuat.

Perlu diketahui bahwa argumen filosofis ini hanya dapat membuktikan wujud Tuhan Pencipta sebagai Wâjib al-Wujud (wujud yang pasti). Artinya bahwa Tuhan Pencipta itu maujud, dan wujud-Nya merupakan hal yang dharuri (niscaya) tanpa memerlukan apa dan siapapun -selain-Nya- yang mewujudkan-Nya.

Adapun untuk menetapkan sifat-sifat-Nya, baik yang positif (tsubutiyah=menetapkan sifat-sifat kesempurnaan) seperti; sifat ilmu, kuasa maupun yang negatif (salbiyah=menafikan sifat-sifat kekurangan) seperti; tidak beraga, tak terbatas oleh ruang dan waktu. Hal ini tidak dapat dibuktikan dengan argumen filosofis ini, melainkan harus dibuktikan dengan argumen lain. 


Bentuk Argumentasi

Berdasarkan asumsi rasional, realitas terbagi menjadi dua; Wâjib al-wujud (wujud yang bersifat pasti) dan mumkin al-wujud (wujud yang bersifat mungkin). Setiap fenomena dan realitas, baik yang dapat diindera, dipersepsi maupun tidak -secara rasional- tidak keluar dari asumsi tersebut. Yaitu terkadang bersifat wâjib al-wujud dan terkadang bersifat mumkin al-wujud. Dengan demikian, kita tidak mungkin mengatakan bahwa seluruh realitas itu bersifat Wâjib al-wujud ataupun mumkin al-wujud. Karena segala yang bersifat mumkin al-wujud itu membutuhkan kepada sebab dan pencipta yang mandiri atau Wâjib al-wujud. Sementara jika dikatakan bahwa segala yang ada itu bersifat Wâjib al-wujud, maka hal ini memestikan kemandirian semua itu, dan hal ini merupakan hal yang badhihi (gamblang) kebatilannya, sehingga tidak memerlukan argumen.

Apabila setiap sebab itu masih berupa mumkin al-wujud, maka ia merupakan akibat yang tentunya membutuhkan kepada sebab yang lain yang mewujudkannya. Dan pada akhirnya, jika setiap sebab itu bersifat mumkin al-wujud, maka tidak akan ada realitas apa pun sama sekali. Artinya, bahwa rangkaian sebab-sebab itu sebenarnya adalah merupakan rangkaian akibat "yang mungkin" dan keberadaannya tidak bersifat pasti.

Oleh karena itu, rangkaian mumkin al-wujud menjadi ada manakala ia berakhir kepada suatu realitas yang bukan lagi akibat dari realitas apapun. Artinya, bahwa rangkaian wujud itu akan berakhir pada Wâjibul wujud.

Argumen di atas ini adalah argumen filsafat yang paling sederhana untuk menetapkan (itsbât, to proof) wujud Tuhan Sang Pencipta. Argumen di atas terdiri dari beberapa premis rasional, tanpa melibatkan premis empirik di dalamnya. Tetapi, karena argumen semacam ini biasanya menggunakan sejumlah konsep dan istilah filosofis, terlebih dahulu kita harus menjelaskan beberapa istilah dan premis yang menyusun argumen ini. 


Wujub, Imkan dan Mumtani’


Setiap proposisi, yang paling sederhana sekalipun, sekurang-kurangnya mesti tersusun dari dua konsep; subjek (maudhu’) dan predikat (mahmul). Misalnya proposisi yang berbunyi: "Matahari itu bersinar". Proposisi ini terdiri dari matahari sebagai subjek dan bersinar sebagai predikat. Dan setiap predikat suatu subjek itu tidak akan keluar dari salah satu tiga kondisi; ada yang bersifat dharuri (niscaya dan tidak terpisahkan), ada yang bersifat imkan (mungkin) dan ketiga ada yang bersifat mumtani’ (tercegah atau mustahil). Predikat yang bersifat dharuri dan pasti seperti proposisi yang berbunyi: Angka 2 adalah setengah dari angka 4, dan gula itu manis. Predikat yang bersifat imkan seperti pada proposisi: Bunga itu merah, dan matahari di atas kepala kita. Dan predikat yang bersifat mumtani’ (mustahil) seperti pada proposisi: Angka 5 itu lebih besar dari angka 7, dan madu itu pahit. Mengingat bahwa filsafat hanya membahas sesuatu yang ada, dan tidak membahas sesuatu yang tidak ada, maka para filosof membagi realitas hanya kepada dua bagian, yaitu Wâjib al wujud dan mumkin al-wujud.

Wâjib al-wujud adalah realitas yang ada dengan sendirinya, artinya wujudnya bersifat mandiri dan tidak bergantung kepada realitas yang lain. Dan realitas yang wujudnya dharuri ini bersifat azali (tidak bermula) dan abadi (tidak berakhir) walau sekejap pun. Dia senantiasa ada dan tidak pernah mengalami ketiadaan. Karena, apabila sesuatu itu ma'dum (tiada) pada masa tertentu -walaupun hanya sekejap saja- maka hal ini menunjukkan bahwa wujudnya itu bukan berdasarkan pada dirinya sendiri, tetapi membutuhkan kepada realitas selainnya yang merupakan sebab yang mewujudkannya atau sebagai syarat keberadaannya. Dengan demikian, jika sebab atau syarat itu tidak ada, maka sesuatu tersebut tidak akan ada. Sedangkan mumkin al-wujud adalah realitas yang wujud dan keberadaannya tidak dengan sendirinya, melainkan wujudnya itu diadakan dan bergantung kepada realitas selainnya. Dengan kata lain, mumkin al-wujud tidak mungkin terwujud kecuali dengan perantara selainnya.

Penjelasan rasional ini menafikan secara pasti adanya mumtani' al-wujud (sesuatu yang wujudnya bersifat mustahil). Pada saat yang sama, penjelasan ini tidak mengidentifikasi; apakah realitas di luar itu Wâjib al-wujud ataukah mumkin al-wujud. Dengan kata lain, kita dapat menggambarkan kebenaran sebuah proposisi tersebut dengan tiga asumsi:

Pertama, setiap realitas itu Wâjib al-wujud.

Kedua, setiap realitas itu mumkin al-wujud.

Ketiga, sebagian realitas itu Wâjib al-wujud, dan sebagian lainnya adalah mumkin al-wujud.

Berdasarkan asumsi pertama dan ketiga, keberadaan Wâjib al-wujud telah dapat ditetapkan. Namun yang perlu kita bahas lebih lanjut adalah asumsi kedua, yaitu apakah mungkin setiap realitas itu bersifat mumkin al-wujud? Apabila kita dapat menggugurkan asumsi ini, maka keberadaan Wâjib al-wujud dapat ditegaskan secara pasti, walaupun untuk menetapkan keesaan dan seluruh sifat-sifat-Nya diperlukan argumentasi tersendiri.

Untuk menggugurkan asumsi kedua, kita perlu menambahkan premis lain ke dalam argumen terdahulu itu, yaitu bahwa seluruh realitas tidak mungkin bersifat mumkin al-wujud. Premis ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

o Bahwa mumkin a- wujud itu butuh kepada sebab yang mewujudkannya.

o Bahwa rangkaian sebab-sebab yang tak berujung adalah mustahil. Oleh karena itu, rangkaian sebab-sebab itu harus berakhir kepada realitas yang bukan berupa mumkin al-wujud yang tidak butuh lagi kepada sebab. Artinya, ia adalah Wâjib al-wujud. Dengan dua premis tersebut, maka dapat ditetapkan bahwa tidak setiap realitas itu bersifat mumkin al-wujud. Artinya ada ralitas yang bersifat Wâjib al-wujud dan selainnya adalah mumkin al-wujud. 


Illah dan Ma’lul


Apabila wujud suatu realitas itu bergantung kepada realitas yang lain, maka -di dalam Filsafat- realitas yang bergantung itu disebut sebagai akibat (ma'lul), dan realitas yang disandarinya atau digantunginya itu disebut sebagai sebab (‘illah). Dan hal ini tidak menafikan bahwa sebab ini sendiri masih bergantung kepada sebab yang lainnya. Artinya, bahwa pada gilirannya sebab itu sendiri masih membutuhkan dan bergantung kepada sebab yang lainnya, dimana ia juga merupakan akibat dari realitas ketiga ini. Namun, jika sebab itu bukan akibat dan tidak bergantung kepada yang lain, maka ia adalah sebab mutlak yang tidak butuh kepada selainnya sama sekali. Dengan penjelasan ini kita telah mengenal dua istilah filsafat; Illah dan Ma’lul, serta definisi keduanya.

Selanjutnya, kami akan menjelaskan premis bahwa setiap mumkin al-wujud itu membutuhkan kepada sebab. Mengingat bahwa keberadaan mumkin al-wujud itu tidak dengan sendirinya, maka wujud mumkin al-wujud tersebut bergantung kepada realitas yang lain. Kemudian perlu juga diketahui bahwa suatu predikat jika dinisbatkan kepada suatu subjek, adakalanya predikat itu bisa ditetapkan pada subjeknya itu secara dzati (esensial), dan adakalanya ditetapkan secara aradhi (aksidental). Misalnya, adakalanya sesuatu itu terang secara esensial, yakni terang dengan sendirinya seperti matahari, adakalanya ia terang karena sesuatu yang lain, misalnya rembulan. Atau, setiap benda (jism) adakalanya berminyak dengan sendirinya seperti minyak, atau berminyak dengan perantara yang lainnya seperti rambut yang diminyaki. Adapun jika didapati asumsi bahwa sesuatu itu terang atau berminyak tidak dengan sendirinya, tidak pula melalui perantara yang lain, maka hal itu merupakan asumsi yang absurd (muhâl).

Dengan demikian, adakalanya ketetapan wujud (sebagai predikat) pada suatu subjek itu secara esensial, yaitu dengan sendirinya dan tanpa perantara yang lain, atau dengan perantara yang lain. Apabila ketetapan wujud pada suatu subjek tidak dengan sendirinya, maka pasti wujudnya itu ditetapkan dengan perantara yang lain. Atas dasar ini, setiap mumkin al-wujud (yang mungkin wujudnya) itu ada dengan perantara yang lain dan ia adalah akibat baginya.

Adalah kaidah Logika yang diterima oleh semua orang yang berakal, bahwa setiap mumkin al-wujud membutuhkan sebab. Namun, berangkat dari pengertian Hukum Kausalitas; bahwa setiap realitas membutuhkan kepada sebab, sebagian orang menganggap bahwa seharusnya wujud Tuhan Pencipta itu pun mempunyai sebab. Mereka lalai bahwa subjek pada Hukum Kausalitas itu bukanlah realitas secara mutlak, tetapi realitas yang bersifat mumkin atau ma'lul (akibat). Dengan kata lain, setiap realitas "yang tidak berdiri sendiri" membutuhkan sebab, bukan setiap realitas tanpa ajektif itu.


Kemustahilan Tasalsul


Premis terakhir yang digunakan dalam argumentasi ini ialah bahwa mata rantai sebab-sebab itu harus berakhir pada realitas yang dirinya bukan lagi akibat, melainkan sebab yang mandiri. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para teolog, bahwa tasalsul (mata rantai sebab-akibat yang tak berujung) itu mustahil. Atas dasar ini, dapat dibuktikan wujud Tuhan sebagai Wâjib al-wujud. Bahwa Wajib al-wujud merupakan sebab pertama yang ada dengan sendirinya dan tidak perlu kepada wujud yang lain.

Para filosof telah mengajukan berbagai argumen untuk menunjukkan kemustahilan tasalsul ini, meski pada dasarnya hal itu adalah masalah yang nyaris badihi dan tidak perlu kepada pembuktian. Dan setiap orang yang mau merenung, walau sejenak, pasti akan dapat memastikan kemustahilan tasalsul tersebut. Artinya, setiap wujud akibat itu membutuhkan kepada sebab dan keberadaannya disyarati oleh keberadaan sebab tersebut.

Apabila diasumsikan bahwa segala sesuatu itu adalah akibat dan semuanya itu membutuhkan kepada sebab, maka tidak akan terealisasi realitas apa pun. Karena tidaklah logis meng-asumsikan adanya mata-rantai yang saling bergantungan tanpa suatu wujud yang merupakan puncak kebergantungan mata rantai tersebut. Sebagai contoh, lomba lari maraton. Apabila seluruh peserta lomba berdiri di garis start, berarti mereka siap untuk berlomba. Tetapi, jika setiap anggota tidak mau memulai untuk berlari kecuali apabila yang lainnya memulai lari terlebih dahulu, apabila keputusan semacam ini diambil oleh seluruh peserta, maka tidak akan terjadi yang namanya perlombaan tersebut. Begitu pula, apabila wujud segala sesuatu itu disyarati dengan wujud yang lain, tidak akan terwujud sesuatu apa pun, sama sekali. Dengan demikian, adanya hal-hal objektif di luar ini merupakan bukti atas keberadaan realitas yang tidak membutuhkan; yang wujudnya itu tidak disyarati oleh wujud selainnya. Dialah Tuhan Pencipta yang wujud-Nya bersifat mandiri dan tidak butuh dan berhajat kepada selain-Nya.



keterbatasan akal dalam mengenal esensi tuhan


Prolog


Dilihat dari sisi penciptaan, manusia merupakan makhluk yang paling sempurna. Hal itu dapat dibuktikan melalui berbagai sarana yang dimilikinya. Lebih dari itu, para ilmuwan telah membuktikan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat berbagai unsur yang terkandung di jagad raya ini. Dengan kata lain, tubuh manusia merupakan miniatur jagad raya. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa manusia merupakan bentuk mikrocosmos. Sementara alam semesta ini sebagai makrocosmos.

Sebagaimana masih banyak teka-teki yang terdapat di alam semesta ini yang belum dapat disingkap oleh ilmu pengetahuan, demikian pula halnya bahwa di dalam tubuh manusia masih banyak persoalan yang menjadi tanda tanya besar bagi para ilmuan. Atas dasar itulah, seorang anthropolog terkemuka yang bernama Alexis Karl memberi nama karyanya tentang manusia dengan judul “Manusia, Makhluk Misterius”.

Dari sekian banyak unsur yang terdapat di dalam diri manusia, akal merupakan unsur terpenting yang membedakan ia dengan makhluk-makhluk hidup lainnya di jagad raya ini. Dengan akal, manusia dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan akal manusia mampu mencapai kemajuan sains dan teknologi. Dan dengan akal pula manusia dapat menjalani hidup bersosial, berpolitik, berbudaya, berbangsa dan bernegara dengan baik. Alhasil, dengan sarana akal manusia dapat mencapai kesempurnaan insaniah-nya. Tanpa akal manusia tidak akan dapat mencapai kesempurnaan dirinya. Dan tanpa akal manusia tak ubahnya bagaikan binatang yang hidupnya monoton dan tidak berkembang sesuai dengan tuntutan hidupnya sebagai manusia.




Akal dan Tuhan


Banyak pihak telah berusaha untuk mendefinisikan akal. Mereka telah mendefinisikan akal dari berbagai sudut pandang. Dalam kajian filsafat etika, biasanya akal dibagi menjadi dua bagian; akal teoritis dan akal praktis. Pada kesempatan ini kami tidak ingin menyibukkan diri untuk menentukan manakah definisi yang benar dan manakah yang salah, atau menjustifikasi semua definisi yang ada. Karena untuk hal itu diperlukan tulisan tersendiri di luar pembahasan ini.

Secara global, akal sering didefinisikan sebagai sarana pendeteksi hal-hal yang bersifat universal. Berangkat dari definisi tersebut, maka akal tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang bersifat partikular. Dengan uraian singkat ini dapat diambil kesimpulan, bahwa akal memiliki radius kemampuan yang sangat terbatas. Dengan kata lain bahwa akal manusia memiliki batasan-batasan pendeteksian tertentu yang berkaitan dengan hal-hal universal saja. Sedang hal-hal yang sangat partikular, akal akan angkat tangan dan tidak mampu untuk melakukan deteksi.

Untuk membuktikan keterbatasan dan kelemahan akal manusia, kami akan menyinggung dua argumen utama secara jelas dan bersifat rasional, khususnya dalam mendeteksi wujud Tuhan.. Pertama: Sehubungan dengan persoalan “Pembuktian keberadaan Tuhan” kita dapati bahwa semua yang ada di alam semesta ini merupakan hasil ciptaan Tuhan, termasuk manusia dan akalnya. Di dalam kajian ilmu filsafat telah dijelaskan secara detail mengenai hukum kausalitas bahwa “sebab” mesti memiliki semua kesempurnaan eksistensial “akibat”, dan bukan sebaliknya. Dengan ungkapan lain bahwa setiap “akibat” memiliki radius batasan yang lebih sempit dibanding “sebab” nya. Mata rantai sebab-akibat itu terus berjalan secara vertikal hingga berakhir pada satu “sebab” yang tidak memiliki penyebab dan kewujudannya tidak disebabkan oleh sebab apapun, yaitu “sebab” yang tidak memiliki batas dan bersifat absolut. Makhluk manusia merupakan salah satu bagian dari alam semesta yang tidak keluar dari mata rantai penciptaan. Oleh karena itu manusia memiliki keterbatasan dan kekurangan sesuai dengan peringkat eksistensi wujudnya. Sedang eksistensi Tuhan jauh di atas peringkat eksistensi manusia. Dari penjelasan ringkas ini dapat diambil kesimpulan bahwa ciptaan Tuhan yang bernama manusia dengan segala atribut yang disandangnya memiliki keterbatasan yang sangat tebal. Kedua: Setelah Kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang bersifat terbatas, dan bukan absolut, dengan demikian maka segala hal yang menempel pada dirinyapun tidak bersifat absolut tetapi memiliki berbagai kekurangan dan keterbatasan. Sementara sesuatu yang tidak terbatas dan bersifat absolut itu mustahil menempel dan bersandar pada sesuatu yang terbatas. Tidak seorangpun mengingkari bahwa setiap manusia memiliki akal sebagai alat berpikir. Apabila telah kita buktikan bahwa manusia itu merupakan makhluk dan ciptaan yang memiliki berbagai kekurangan dan keterbatasan, maka -dengan demikian- dapat kita tetapkan pula bahwa akal pikiran manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan pula. Dengan memperhatikan secara cermat uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa antara dua bentuk eksistensi terbatas tersebut, yaitu manusia dan akalnya terdapat keserasian. Dan hal itu merupakan konsekwensi logis antara keduanya.

Berkaitan dengan masalah Tuhan, banyak pembahasan teologis dan filosofis yang telah menetapkan bahwa Tuhan bersifat absolut dan tidak terbatas. Sementara akal manusia bersifat terbatas. Merupakan satu hal yang gamblang bagi semua orang bahwa mustahil sesuatu yang terbatas itu mampu mendeteksi semua sisi yang dimiliki oleh eksistensi yang bersifat absolut dan tidak batas. Dengan demikian hanya hal-hal yang bersifat universal dari Tuhan saja yang dapat dideteksi oleh akal manusia. Adapun esensi sejati Tuhan, maka akal manusia tidak mungkin mampu untuk mengenal dan mengetahuinya secara sempurna.


Epilog


Metode apapun yang akan dijadikan landasan dalam upaya mengenal Tuhan dan memahami eksistensi-Nya, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan sama sekali oleh setiap orang yang berupaya mengenal wujud Tuhan, yaitu mengakui kekurangan, kelemahan dan keterbatasan daya nalar akalnya. Tanpa mengakui kekurangan dan keterbatasan akalnya tersebut dapat menimbulkan banyak konsekwensi negatif bagi dirinya. Pertama: Dia akan menganggap bahwa hakikat dan esensi Tuhan hanya terbatas pada apa yang dia ketahui. Padahal sebenarnya esensi Tuhan jauh lebih dalam dari apa yang dipahaminya dan tidak mungkin ia dapat mencapainya. Perlu dipahami pula bahwa pemahaman manusia terhadap wujud Tuhan memiliki gradasi yang beragam. Dan pemahamannya itu akan terus berjalan menuju kepada satu titik kesempurnaan insaniahnya. Betapapun sempurnanya pengetahuan manusia -yang bersumber dari akalnya yang terbatas- tentang wujud Tuhan, ia tidak mungkin dapat mencapai hakikat dan esensi Tuhan yang tidak terbatas. Hakikat dan esensi Tuhan, tidak akan pernah dikenal oleh manusia sebagaimana layaknya Dia mengenal zat-Nya sendiri. Hal ini berkaitan dengan persoalan Tuhan itu sendiri.

Kedua: Dia akan merasa sombong dan bangga diri. Dan hal ini merupakan konsekwensi umum yang akan diperoleh setiap pencari Tuhan yang tidak diiringi dengan pengakuan akan kelemahan dan keterbatasan akalnya. Dia akan merasa bahwa pengetahuannya terhadap Tuhan adalah yang terbaik dibanding pengetahuan yang lainnya, dan kesombongan intelektual terhadap sesamanya pun akan menjangkiti hatinya. Semoga kita dijauhkan dari hal itu. 

Jenis-jenis Religiusitas


Jenis-jenis Religiusitas
Abdol Karim Soroush

Kata-kata identik seringkali menipu
Orang mukmin dan orang kafir tampak identik dalam bentuk
Mengambil kata-kata tunggal dan jamak pertengkaran mengikuti
Satu makna yang tepat, ketenangan mengikutinya

Salah keputusan kerap kali muncul dari fakta bahwa suatu istilah tunggal bias membawa pengertian ganda atau suatu pengertian tunggal bias bertmu dalam nama-nama yang berbeda. Mencapai keputusan seragam mengenai makna-makna ganda tersebut ataupun membuat keputusan ganda mengenai pengertian tunggal tersebut tidak lain daripada kesalahan atau kesesatan. Dan memisahkan kata-kata yang terkunci merupakan tugas semua pencari pengetahuan. Religiusitas termasuk salah satu dari istilah tersebut.

Ketika kita bertanya kepada diri sendiri: ‘Manakah yang lebih religious antara masyarakat Iran di bawah Dinasti Qajar dengan masyarakat Iran sekarang? Apakah masyarakat Barat modern lebih religious daripada masyarakat di Abad Pertengahan? Satu keeping pemikiran dan refleksi membawa kita kepada realisasi tersebut yang – kecuali jika kita mengklarifikasi dan memisahkan strata agama yang berbeda – kita tidak pernah menemukan jawaban terhadap pertanyaan kita tersebut. Adalah mungkin saja bahwa masyarakat sekarang lebih religious dalam satu pengertian dan juga kurang religious dalam pengertian lain. Dengandemikian, membedakan jenis-jenis dan strata relitiusitas yang berbeda merupakan suatu prasyarat teori religious dan pengetahuan serta prakondisi reformasi.

Apabila kita mengambil jumlah peringatan duka cita, puasa, air mata, doa, lilin-lilin, para peziarah, membungkuk di hadapan ulama, maka periode Qajar akan muncul sebagai yang terdepan. Jika kita mengambil studi-studi krisis, opiniopini, dan perdebatan tentang agama, kita sangat mungkin menemukan masyarakat sekarang lebih religious dan lebih religion-minded. Ketika kita menyelidiki materi tersebut lebih jauh dan melihat bahwa setiap jenis religiusitas menawarkan interpretasi yang berbeda ihwal Tuhan, Nabi, dosa, ketaatan, kebahagiaan, dan kesedihan, maka kita akan lebih melihat secara jelas daya tarik dan sensitifitas persoalan tersebut.

Membedakan jenis-jenis religiusitas yang berbeda tentu saja bukan suatu gagasan baru atau inovatif. Ketika Quran suci membahas tentang yamin (golongan kanan) dan al-sabiqun (golongan paling dulu), ia tengan menawarkan suatu cara untuk membedakan jenis-jenis religiusitas yang berbagam. Dan sarjana-sarjana agama, yang membahas legalistic, metodistik, dan agama idealistic ataupun agama inisiasi, median dan kulminasi, sedang menyentuh pada kebenaran yang sama ini.

Artkel ini juga akan menapilkan, secara ringkas, suatu kategorisasi jenis religiusitas yang berbeda yang memiliki perbedaan-perbedaan dan persamaan dengan pembagian-pembagian yang disebutkan. Kami akan menyebutkan tiga jenis religiusitas: (i) religiusitas pragmatis (atau utilitarian);(ii) religiusitas gnostik; dan (iii) religiusitas eksperimental.

Religiusitas pragmatis

Pada jenis religiusitas ini, suatu pandangan atau tujuan tindakan akhir, kegunaan dan hasilnya (bersifat duniawi sekarang ataupun yang akan dating) merupakan kepentingan puncak bagi orang-orang beriman. Ia merupakan suatu agama untuk kehidupan (tidak sinonim dengan “kehidupan” atau lebih tinggi dari kehidupan).

Dalam bentuk akhiratnya yang hakiki, ia mengenakan busana asketisisme dan sufisme (Khwajah Abdullah Anshary) dan dalam bentuk lahirnya, busana politik dan kenegaraan (Sayyid Jamal al-Din al-Afghani, dan lain-lain). Blok pusatnya adalah emosi dan rasionalitas praktis. Di kalangan massa umum aspek emosional memperoleh kemajuan. Dan di kalangan terpelajar rasionalitas praktik yang dipaparkan, yakni untuk mengatakan kemampuan untuk menyandingkan sarana-sarana kepada tujuan-tujuan.

Religiusitas pragmatis bersifat keduniaan, kausal, turun-temurun, deterministic (tidak muncul dari pilihan atau kehendak bebas), emosional, dogmatis, ritualistic, ideologis, terikat-identitas, eksternal, kolektif, legalistic-yuristik, mistis, imtatif, patuh, tradisional dan habitual. Di sini, kekerapan perbuatan merupakan ukuran intensitas atau sebaliknya dari keyakinan: melakukan ibadah haji berkali-kali, berziarah ke makam-makam, shalat sebanyak-banyaknya dan seterusnya. Melalui perbuatan-perbuatan ini, seseorang merasa lebih berhasil dalam agama dan dekat dengan Tuhan. Ritual-ritual massa menumbuhkan sikap religiusitas ini lebih daripada yang lainnya.  …

Akal dan Konsep Ketuhanan

Senin, 04 Juni 2012



Akal dan Konsep Ketuhanan
Oleh Sayid Husein al Kaff
Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah fithri yang tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya fitrah mereka redup atau bahkan padam.
Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para ahli ma’rifat berkata, ”Jalan-jalan menuju ma’rifatullah sebanyak nafas makhluk.” Salah satu jalan ma’rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli Hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al Quran dan Hadis). Mereka beralasan dengan adanya sejumlah ayat dan riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra’yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al Quran dan Hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah lewat argumentasi (burhan) aqli. Pada tulisan berikutnya, insya Allah akan kita bicarakan tentang Al-Qur’an, Hadis dan konsep ketuhanan.

Bisakah Tuhan dibuktikan dengan akal ?
Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah tepat, karena bukan saja Allah bisa dibuktikan dengan akal. Bahkan, pada beberapa kondisi dan situasi hal itu harus dibuktikan dengan akal dan tidak mungkin melakukan pembuktian tanpa akal.
Anggapan yang mengatakan, bahwa pembuktian wujud Allah hanya dengan nash saja adalah anggapan sangat naif. Karena bagaimana mungkin seseorang menerima keterangan Al-Qur’an, sementara dia belum mempercayai wujud (keberadaan) sumber Al Quran itu sendiri Al-Qur’an, yaitu Allah Ta’ala.
Lebih naif lagi, mereka menerima keterangan Al Quran lantaran ia adalah kalamullah atau sesuatu yang datang dari Allah. Hal ini berarti, mereka telah meyakini wujud Allah sebelum menerima keterangan Al-Qur’an. Lalu mengapa mereka meyakini wujud Allah ?
Mereka menjawab, “Karena Al Quran mengatakan demikian.” Maka terjadilah daur (Lingkaran setan ?, lihat istilah daur pada pembahasan selanjutnya). Dalam hal ini, Al Quran dijadikan sebagai pendukung dan penguat dalil aqli.
Para ulama, ketika membuktikan wujud Allah dengan menggunakan burhan aqli, terkadang melalui pendekatan kalami (teologis) atau pendekatan filosofi.
Pada kesempatan ini, insya Allah kami mencoba menjelaskan keduanya secara sederhana dan ringkas.

Burhan-burhan Aqli-kalami tentang keniscayaan wujud Allah Ta’ala
1.Burhan Nidham (keteraturan)
Burhan ini dibangun atas beberapa muqadimah (premis). Pertama, bahwa alam raya ini penuh dengan berbagai jenis benda, baik yang hidup maupun yang mati.
Kedua, bahwa alam bendawi (tabiat) tunduk kepada satu peraturan. Artinya, setiap benda yang ada di alam ini tidak terlepas dari pengaruh undang-undang dan hukum alam.
Ketiga, hukum yang menguasai alam ini adalah hukum kausalitas (illiyyah), artinya setiap fenomena yang terjadi di alam ini pasti dikarenakan sebuah sebab (illat) dan tidak mungkin satu fenomena terjadi tanpa sebab. Dengan demikian, seluruh alam raya ini dan segala yang ada di dalamnya, termasuk hukum alam dan sebab akibat, adalah fenomena dari sebuah puncak sebab (prima kausa atau illatul ilal).
Keempat, “sebab” atau illat yang mengadakan seluruh alam raya ini tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu “sebab” yang berupa benda mati atau sesuatu yang hidup.
Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena beberapa alasan berikut : Pertama, alam raya ini sangat besar, indah dan penuh keunikan. Hal ini menunjukkan bahwa “sebab” yang mengadakannya adalah sesuatu yang hebat, pandai dan mampu. Kehebatan, kepandaian dan kemampuan, merupakan ciri dan sifat dari sesuatu yang hidup. Benda mati tidak mungkin disifati hebat, pandai dan mampu.
Kedua, benda-benda yang ada di alam ini beragam dan bermacam-macam, diantaranya adalah manusia. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam yang paling menonjol. Dia pandai, mampu dan hidup. Mungkinkah menusia yang pandai, mampu dan hidup terwujud dari sesuatu yang mati ?.
Kesimpulannya, bahwa alam raya ini mempunyai ‘’sebab’’ atau ‘illat, dan ‘’sebab’’ tersebut adalah sesuatu yang hidup. Kaum muslimin menamai ‘’sebab’’ segala sesuatu itu dengan sebutan Allah Ta’ala.

2. Burhan al-Huduts (kebaruan)
Al-Huduts atau al-Hadits berarti baru, atau sesuatu yang pernah tidak ada kemudian ada. Burhan ini terdiri atas beberapa hal :
Pertama, bahwa alam raya ini hadits, artinya mengalami perubahan dari tidak ada menjadi ada dan akhirnya tidak ada lagi.
Kedua, segala sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti dia menjadi ada karena ‘’sebab’’ sesuatu.
Ketiga, yang menjadikan alam raya ini ada haruslah sesuatu yang qadim, yakni keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Keberadaannya kekal dan abadi. Karena, jika sesuatu yang mengadakan alam raya ini hadits juga, maka Dia-pun ada karena ada yang mengadakannya, demikian seterusnya (tasalsul). Tasalsul yang tidak berujung seperti ini mustahil. Dengan demikian, pasti ada ‘sesuatu’ yang keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Kaum muslimin menamakan ‘sesuatu’ itu dengan sebutan Allah Ta’ala.

Burhan-burhan Aqli-filosofi tentang keniscayaan wujud Allah Ta’ala.
A. Burhan Imkan
1. Sebelum menguraikan burhan ini, ada beberapa istilah yang perlu diperjelas terlebih dahulu Wajib, yaitu sesuatu yang wujudnya pasti, dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang lain.
2. Imkan atau mumkin, sesuatu yang wujud (ada) dan ‘adam (tiada) baginya sama saja (tasawiy an-nisbah ila al-wujud wa al-‘adam). Artinya, sesuatu yang ketika ‘ada’ disebabkan faktor eksternal, atau keberadaannya tidak dengan sendirinya. Demikian pula, ketika ‘tidak ada’ disebabkan oleh faktor eksternal pula, atau ketiadaannya juga tidak dengan sendirinya. Dia tidak membias kepada wujud dan kepada ketiadaan. Menurut para filosof, hal ini merupakan ciri khas dari mahiyah (esensi).
3. Mumtani atau mustahil, yaitu sesuatu yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin terjadi, seperti sesuatu itu ada dan tiada pada saat dan tempat yang bersamaan (ijtima’un-naqidhain).
4. Daur (siklus atau lingkaran setan) Misal, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, sedangkan B keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian pula B tidak mungkin ada tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Dengan demikian, A tidak akan ada tanpa B dan pada saat yang sama A harus ada karena dibutuhkan B. Ini berarti ijtima’un naqidhain (lihat Mumtani’). Contoh lainnya, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, dan B keberadaannya tergantung/membutuhkan C, sedangkan C keberadaannya tergantung/ membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian juga B tidak mungkin ada tanpa keberadaan C terlebih dahulu, demikian juga C tidak mungkin ada tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Daur adalah suatu yang mustahil adanya.
5. Tasalsul, yaitu susunan sejumlah ‘illat dan ma’lul, dengan pengertian bahwa yang terdahulu menjadi ‘illat bagi yang kemudian, dan seterusnya tanpa berujung. Tasalsul sama dengan daur, mustahil adanya.

Burhan Imkan dapat dijelaskan dengan beberapa poin sebagai berikut ini:
Pertama, bahwa seluruh yang ada tidak lepas dari dua posisi wujud, yaitu wajib atau mumkin.
Kedua, wujud yang wajib ada dengan sendirinya dan wujud yang mumkin pasti membutuhkan atau berakhir kepada wujud yang wajib, secara langsung atau lewat perantara. Kalau tidak membutuhkan kepada yang wajib, maka akan terjadi daur (siklus) atau tasalsul (rentetan mata rantai yang tidak berujung) dan keduanya mustahil.
Ketiga, bahwa yang mumkin berakhir kepada yang wajib. Dengan demikian, yang wajib adalah ‘sebab’ dari segala wujud yang mumkin (prima kausa atau ‘illatul ‘ilal). Kaum muslimin menamakan wujud yang wajib dengan sebutan Allah Ta’ala.

B. Burhan Ash-Shiddiqin
Burhan ini menurut para filosuf muslim, merupakan terjemahan dari ungkapan Ahlul Bayt as. yang berbunyi, “Wahai Dzat yang menunjukkan diri-Nya dengan diri-Nya.” (Doa Shahabah Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib as.) Artinya, Burhan ini ingin menjelaskan pembuktian wujud Allah melalui wujud diri-Nya sendiri. Para ahlui mantiq (logika) menyebutnya dengan burhan Limmi. Penjelasan burhan ini, hampir sama dengan penjelasan burhan Imkan.
Ada beberapa penafsiran tentang burhan shiddiqin ini. Diantaranya penafsiran Mulla Shadra. Beliau mengatakan, “Dengan demikian, yang wujud terkadang tidak membutuhkan kepada yang lain (mustaghni) dan terkadang pula, secara substansial, ia membutuhkan kepada yang lain (muftaqir). Yang pertama, adalah wujud yang wajib, yaitu wujud murni. Tiada yang lebih sempurna dari-Nya dan dia tidak diliputi ketiadaan dan kekurangan. Sedangkan yang kedua, adalah selain wujud yang wajib, yaitu perbuatan-perbuatan-Nya yang tidak bisa tegak kecuali dengan-Nya (Nihayah al-Hikmah, hal. 269).
Allamah al-Hilli, dalam komentarnya terhadap kitab Tajrid al-‘Itiqad karya Syekh Thusi, menjelaskan, “Di luar kita secara pasti ada yang wujud. Jika yang wujud itu wajib, maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala), dan jika yang wujud itu mumkin, maka dia pasti membutuhkan faktor yang wujud (untuk keberadaannya). Jika faktor itu wajib, maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala). Tetapi jika faktor itu mumkin juga, maka dia membutuhkan faktor lain dan seterusnya (tasalsul) atau daur. Dan keduanya mustahil adanya

Intregasi Kajian Tasawwuf dan Psikologi

Sabtu, 02 Juli 2011


Oleh: Hayati Nizar
(Guru Besar Psikologi Islam IAIN IB Padang)


A. Pendahuluan
Kajian Tasawuf pada era klasik diposisikan pada hasil pemikiran ulama yang sulit dipahami dan berkonsekuensi kurang diminati. Tasawuf  pada intinya adalah studi kejiwaan yang identik dengan psikologi dan perlu diapungkan agar berkembang pesat seperti keadaannya psikologi.  Kajian-kajian keislaman yang dilakukan di PTAI memerlukan rekontruksi islami agar berkembang seiring dengan perkembangan sains dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Sehubungan dengan pemikiran tentang rekonstruksi islami bagi studi kejiwaan, M. Izzuddin Taufiq (2006: 28-53) mengemukakan tiga kelompok sikap umat Islam untuk ini. Pertama, sikap menentang dari kalangan Islam secara umum dengan alasan bahwa  Islam sangat kaya dan tidak memerlukan rekonstruksi. Di samping itu kebudayaan  mereka tidak memperbolehkan mereka  untuk membahas  studi kejiwaan secara spesifik.Kedua, sikap menentang dari kalangan psikologi sendiri karena mereka meragukan rekonstruksi tersebut. Berkenaan dengan hal itu, Ismail al Furuqi yang gencar melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan mengemukakan keluhannya bahwa dalam lembaga dimana ia melakukan penelitian Terdapat seratus ribu anggota yang menyandang gelar magister dan doktoral, namun sedikit sekali yang dapat diperhitungkan keberadaannya, yang memiliki pemikiran kritis dalam memberikan label Islami. Banyak dari mereka yang hanya mengekor kepada kajian barat dan tidak peduli dengan rekonstruksi ini, bahkan menjadi orang yang paling ragu dan memandang mustahil perwujudannya dan lebih jauh melakukan provokasi terhadapnya. M. Malik B. Badri dalam bukunya Te Dilemma of Muslim Psychologst melancarkan kritik terhadap para psikolog muslim yang cenderung menggunakan aliran barat tanpa mempertimbangkan nilai-nilai psikologis yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadis.
Ketiga, menerima  pemikiran rekonstruksi dan terlibat aktif untuk mewujudkannya.  Sikap ini muncul dari kesadaran  bahwa psikologi barat telah maju dengan pesat dan pengaruhnya telah  dirasakan  dalam penelitian ilmiah.
Dalam studi Tasawuf, penulis  sependapat dengan kelompok ketiga di mana kajian tasawuf hari ini dapat berintegrasi dan berinterkoneksi dengan psikologi yang berkembang sangat pesat. Tasawuf dan Psikologi memberikan tempat yang sangat strategis terhadap potensi kepribadian manusia dalam menentukan arah jalan kehidupan. Kedua bidang ilmu ini telah berupaya mengkaji kepribadian manusia secara lebih komprehensif. Hanya saja perkembangan kajian Tasawuf relatif lambat dibanding  psikologi. Tasawuf dan Psikologi, keduanya unik, dialami secara pribadi dalam bentuk yang berbeda pada tiap orang.   Tasawuf mengacu kepada kesalehan pribadi dengan berupaya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan atau berusaha tanpa putus untuk menghadirkan Tuhan di dalam hati.  Psikologi  menyangkut kajian tentang jiwa/mental atau kondisi dalam diri manusia, yang gejalanya teramati pada tingkah laku nyata. Dengan integrasi dan interkoneksi antara Tasawuf dan Psikologi, perpaduan ini dapat saling melengkapi dan berkembang secara bersama sehingga dikotomi ilmu dapat teratasi.
B. Tasawuf: Perkembangan dan Ajaran dalam Pembentukan Perilaku Manusia.
Tasawuf berasal dari kata “sufi” yang berarti “seseorang yang berbusana wol.” Pada abad kedelapan, kata tersebut adakalanya diterapkan kepada Muslim yang kecenderungan asketisnya mendorong mereka untuk mengenakan pakaian wol yang kasar dan tidak nyaman.(Esposito,jld 5, 2001:206).  Secara bertahap istilah ini mengacu kepada kelompok yang membedakan diri mereka dari yang lain dengan menekankan ajaran-ajaran dan praktek-praktek khusus tertentu dari al-Quran dan Sunnah. Pada abad kesembilan isim masdar (gerund) dari kata tersebut yakni tasawwuf yang secara harfiah berarti “menjadi sufi”  atau “sufisme” diadopsi oleh beberapa kelompok ini sebagai penamaan yang tepat.  Dalam bahasa Indonesia istilah tersebut ditulis dengan Tasawuf, sebagai bahasa yang diadopsi dari bahasa Arab.
Dari pengertian Tasawuf yang telah dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa kaum sufi memandang diri mereka sebagai Muslim yang memperhatikan secara sungguh-sungguh seruan Allah untuk menyadari kehadiran-Nya, baik di dunia (alam) ini maupun di dalam diri mereka. Mereka cenderung menekankan hal-hal yang batiniah di atas yang lahiriah, kontemplasi di atas tindakan, perkembangan spiritual di atas aturan hukum, dan pembinaan jiwa di atas interaksi sosial.  Pada tingkat teologis, sufi berbicara masalah “ampunan, keanggunan, dan keindahan” Tuhan jauh melebihi perbincangan mereka mengenai “kemurkaan, kekerasan, dan kemegahan-Nya” yang memainkan peran penting dalam fiqh (hukum  Islam) maupun kalam (teologi dogmatis).  Tasawuf tidak saja dikaitkan dengan institusi-institusi dan individu-individu tertentu, tetapi juga dengan kepustakaan yang berlimpah dan kaya, terutama syair.
Dari segi kesejarahan, pemikiran tentang Tasawuf dapat dikelompokkan pada dua tingkat. Tingkat pertama, Tasawuf merupakan sesuatu yang tidak tampak, yang memberi semangat pada kehidupan komunitas Muslim. Pada tingkat kedua, kehadiran Tasawuf dikenal melalui karakteritik-karakteristik teramati tertentu yang melekat pada rakyat dan masyarakat maupun bentuk-bentuk kelembagaan yang spesifik. Para penulis sufi yang mengkaji Tasawuf pada tingkat kedua bermaksud menggambarkan bagaimana figur-figur Muslim besar mencapai tujuan kehidupan manusia, yakni kedekatan kepada Tuhan. Nama-nama sufi besar antara lain Ibn ‘Arabi, Jalaluddin ar-Ruumi, Rabi’ah al-Adawiyyah, al-Ghazali setelah merasa jenuh dengan Filsafat, dan lain-lain mengemukakan kajian tentang kedekatan dengan Allah melalui berbagai  maqaam (stasiun).
Al-Ghazali yang  terbiasa berpikir sistematis dengan panduan pemikiran filsafat mengemukakan  jenjang yang jelas dalam upaya  melakukan kedekatan kepada Allah. Jenjang tertinggi dia sebut  ma’rifah (mengenal Tuhan dari dekat).       Menurut al-Ghazali, manusia dapat sampai kepada tingkat ma’rifah dengan cara mengendalikan qalb. Ia berpendapat bahwa qalb manusia berbeda dengan hewan di mana qalb hewan hanya berfungsi fisiologis yakni memompakan darah ke seluruh tubuh, sementara qalb manusia berfungsi fisiologis dan psikologis. Secara psikologis qalb berisikan empat macam keinginan yakni sabu’iyyah (buas/agresi), bahimiyyah (nafsu makan, minum, dan syahwat), syaithaniyyah (keinginan untuk melanggar larangan Tuhan), dan rabbaniyyah (keinginan untuk merasa dekat dengan Tuhan) Tiga macam keinginan yakni sabu’iyyah, bahimiyyah, dan syaithaniyyah memotivasi manusia untuk bertingkah laku buruk, sementara hanya satu yaitu rabbaniyyah yang memotivasi untuk bertingkah laku baik.         Agar manusia mengalami ma’rifah, maka qalb perlu dilatih,  karena tanpa latihan, mustahil manusia dapat mencapai tingkat tersebut. (Al-Ghazali, juz 3: t.t : 7-9)
Dalam perkembangannya kemudian, islam termanifestasi melalui syari’at dan yurisprudensi, sementara iman terlembagakan melalui kalam dan bentuk-bentuk lain ajaran-ajaran doktrinal. Syari’at atau yurisprudensi membuat aturan dan batasan mengenai sikap dan tingkah laku yang seharusnya dilakukan orang yang menundukkan aktivitas mereka kepada Allah. Kalam mendefinisikan muatan keyakinan Islam dan sekaligus menyediakan pertahanan rasional bagi al-Quran dan Hadis. Sebagian sufi memfokuskan  pada memenuhi kewajiban berserah diri dan keimanan. Dalam hal ini ia berfungsi pada dua tingkat yakni teori dan praktek. Pada tingkat teoritis, Tasawuf menjelaskan basis rasional bagi iman maupun islam. Penjelasannya mengenai iman berbeda dengan penjelasan yang diberikan oleh kalam, baik dalam perspektif maupun dalam fokus. Pada tingkat praktis, Tasawuf atau sufisme menjelaskan makna-makna yang dapat digunakan oleh Muslim untuk memperkuat pemahaman dan pelaksanaan Islam mereka dengan pandangan menuju penemuan kehadiran Tuhan dalam diri mereka maupun di dunia. Tasawuf mengintensifkan kehidupan ritual Islam melalui perhatian yang seksama terhadap detail-detail Sunnah dengan cara memusatkan perhatian kepada mengingat Allah (zikir).  Zikir secara tipikal mengambil bentuk mengulang-ulang nama-nama Tuhan. Dalam acara-acara pertemuan bersama, kaum sufi lazim melantunkan zikir dengan suara keras dan sering diiringi dengan musik. Di beberapa kelompok sufi, pertemuan-pertemuan bersama ini menjadi ritual dasar, dengan pengabaian pelbagai aspek Sunnah. Pada titik ini, praktek sufi menjadi tertuduh, tidak saja di mata ahli fiqh, tetapi juga di mata kebanyakan orang sufi.    Serangan yang berulang-ulang ditujukan pada tasawuf dalam sejarah Islam memiliki banyak penyebab. Tidak sedikit diantara penyebab itu berupa pengaruh sosial dan politik para guru sufi, yang sering mengancam kekuasaan serta hak-hak istimewa para ahli hukum, bahkan penguasa.
Sebagaimana cabang-cabang pembelajaran Islam lainnya, tasawuf diturunkan dari guru. Ritus permulaan yang dipandang sebagai ciri tasawuf mengambil model pada acara jabat tangan, yang dikenal sebagai bai’atur ridhwan, yang dipersyaratkan oleh Rasul dari para sahabatnya di Hudaibiyah. Ritus tersebut dipahami sebagai memindahkan kekuatan spiritual yang tidak tampak ataupun rahmat (barakah) yang memungkinkan berlangsungnya transformasi jiwa sang pengikut. Kepedulian fundamental sang guru adalah membentuk karakter (akhlaq) sang pengikut sehingga sesuai dengan model kenabian.
Teori yang diajukan oleh kalangan sufi menawarkan perspektif teologis yang jauh lebih mendalam bagi bagian terbesar mayoritas Muslim dibandingkan kalam, yang merupakan kajian akademis dengan dampak praktis yang kecil terhadap kebanyakan orang. Sejak awal para ahli kalam berusaha memahami ajaran-ajaran al-Quran  dalam pengertian rasional dengan bantuan metode yang ditarik dari pemikiran Yunani. Agar tetap sesuai dengan kecenderungan akal untuk mencermati dan membedakan, kalam mengikat seluruh ayat al-Quran yang menegaskan transendensi dan keberbedaan Allah, maka kalam menjelaskan melalui penafsiran (takwil).
Ketika kalam dan fiqih bergantung pada akal untuk menetapkan ketegori-kategori dan pemilahan-pemilahan, maka Tasawuf bergantung kepada aspek jiwa yang lain untuk menjembatani kesenjangan dan membuat jalinan. Banyak diantara kaum sufi merujuk aspek ini sebagai imajinasi (khayal) dan menganggapnya sebagai kekuatan jiwa yang mampu menangkap kehadiran Tuhan dalam seluruh benda. Misalnya, mereka membaca secara harfiah ayat al-Quran surat al-Baqarah, 2:115 “Kemanapun engkau berpaling, di situlah wajah Allah.”
Pada perkembangan selanjutnya kira-kira abad keduabelas Masehi atau abad kelima Hijriyah, kelompok-kelompok sufi mengikatkan diri mereka ke dalam kelompok-kelompok khusus yang dikenal dengan tarikat. Dalam seluruh tarikat sufi terdapat kegiatan ritual sentral yang melibatkan pertemuan-pertemuan kelompok secara teratur untuk melakukan pembacaan do’a, sya’ir, dan ayat-ayat pilihan dari al-Quran. Pertemuan-pertemuan tersebut lazim digambarkan sebagai tindakan “mengingat Allah” atau zikir. Selain  dari itu, kegiatan-kegiatan pemujaan harian bagi para pengikut juga ditetapkan, misalnya meditasi khusus, asketisme, dan pemujaan.  Struktur dan format ritual yang menjadi karakter khas suatu tarekat disiapkan oleh individu yang mendirikan tarekat. Pendiri tarekat merupakan pembimbing spiritual bagi seluruh pengikut di dalam tarekat, yang mengucapkan sumpah setia khusus kepadanya sebagai syekh atau guru mereka. Dengan berlanjutnya tarekat, catatan mengenai penerusan ritual itu akan dipelihara dalam suatu rantai keturunan spiritual, yang disebut silsilah. Silsilah tersebut merupakan garis yang berlanjut mundur hingga ke pendirinya, bahkan sampai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Pada kondisi inilah barangkali tasawuf menjadi tertuduh sebagai biang kemunduran umat Islam. Pada era kontemporer, di mana manusia modern lebih berorientasi materi dan hal-hal yang bersifat duniawi ternyata kajian tasawuf lebih diminati. Identitas Islam inklusif dengan penekanan yang besar pada kesalehan individual dan pengalaman kelompok-kelompok kecil. Pada akhir abad keduapuluh, tradisi tarekat-tarekat sufi memiliki kekuatan-kekuatan khusus dalam situasi yang mengandung derajat pluralisme keagamaan yang tinggi. 
Ajaran pokok Tasawuf berkisar sekitar proses penyucian jiwa dan jalan pendekatan diri menuju Tuhan. Proses dan jalan itu sangat panjang dan melalui tahapan-tahapan yang disebut maqamat. Abu Bakar al-Kalabadzi (w. 380 H/990 M) menyebutkan tujuh maqam yang harus dilalui sufi menuju Tuhan yaitu tobat, zuhud, sabar, tawakal, ridha, mahabbah, dan ma’rifah. Tobat merupakan awal semua maqamat yang memiliki kedudukan ibarat fondasi sebuah bangunan. Adapun peringkat tobat ada tiga yakni rendah, sedang, dan tinggi. Menurut Abu Ishak Ibrahim al-Matbuli (w. 291 H/904 M) tobat peringkat terendah adalah bertobat dari berbagai dosa besar (menyekutukan Allah, durhaka kepada orangtua, berbuat zina, meminum khamar, melakukan sumpah palsu, membunuh tanpa alasan yang dibolehkan agama). Peringkat sedang yaitu tobat dari dosa-dosa kecil misalnya, perbuatan makruh, sikap dan tindakan yang menyimpang dari keutamaan antara lain merasa diri suci, merasa diri telah dekat dengan Tuhan, dan sebagainya. Peringkat tobat yang paling tinggi adalah tobat dari kelengahan hati mengingat Allah walaupun sekejap.
Zuhud secara bahasa meninggalkan sesuatu lantaran kekurangan dan kehinaannya dan dalam terminologi tasawuf diartikan sebagai kebencian hati terhadap hal ihwal keduniaan dan menjauhkan diri darinya ketika ada kesempatan untuk memperolehnya, karena menaati Allah. Menurut Abu al-Hasan al-Syazili (w. 656 H/1258 M) pengertian zuhud adalah menggunakan hal ihwal keduniaan sekedar untuk memenuhi hajat hidup, bukan untuk berlebihan dan berfoya-foya Zuhud juga memiliki peringkat  rendah, sedang, dan tinggi. Zuhud terendah yakni zuhud terhadap hal-hal duniawi, orang yang zuhud berupaya meninggalkan hal-hal keduniaan. Zuhud peringkat sedang yaitu orang yang telah sanggup meninggalkan hal ihwal keduniaan, karena dipandangnya sebagai sesuatu yang tidak memiliki  nilai dan hatinya cenderung berusaha meraih kebahagiaan yang lebih besar di sisi Allah. Zuhud peringkat tertinggi yakni orang zuhud yang semata-mata mengharap ridha Allah. Menurut Imam al-Ghazali ada tiga indikator yang menunjukkan bahwa orang tersebut telah mencapai peringkat zuhud tertinggi yakni: 1) tidak gembira dengan apa yang telah diperoleh  dan tidak berduka dengan kehilangan. Ini menyangkut  harta benda; 2) bersikap sama dalam menerima  pujian dan ejekan; hal ini menyangkut pangkat dan kedudukan; 3) hatinya senantiasa diliputi kemesraan dalam mengingat Allah dan merasakan nikmatnya beribadah.
Sabar   dikelompokkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H/1166 M) pada tiga tingkatan. Pertama,  sabar untuk Allah (sabr li Allah) yaitu keteguhan hati dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Kedua, sabar bersama Allah (sabr ma’a Allah) yakni keteguhan hati menerima segala keputusan dan tindakan Allah. Ketiga, sabar atas Allah (sabr ‘ala Allah) adalah keteguhan hati dan kemantapan sikap dalam menghadapi apa yang dijanjikan Allah berupa rezki, kelapangan hidup, dan lain-lain.
Tawakal secara bahasa berarti “mempercayakan” atau “mewakilkan”. Menurut istilah tasawuf, tawakal berarti mempercayakan atau menyerahkan segenap masalah kepada Allah dan mewakilkan kepada-Nya penanganan berbagai masalah yang dihadapi. Menurut Zunnun al-Misri (w. 180 H/796 M) bahwa tawakal adalah meninggalkan pertimbangan terhadap diri sendiri dengan menghapuskan daya dan kekuatan. Seorang yang bertawakal tidak melihat adanya daya dan kekuatan, kecuali daya dan kekuatan Allah. Al-Ghazali membagi tawakal pada tiga tingakatan pula. Pertama, menyerahkan diri kepada Allah, seperti seseorang  yang menyerahkan suatu urusan  kepada wakilnya setelah ia meyakini kebenaran, kejujuran, dan kesungguhan wakilnya  dalam menangani urusan itu. Kedua, menyerahkan diri kepada Allah, seperti seorang anak kecil menyerahkan segala persoalannya kepada ibunya. Ketiga, menyerahkan diri kepada Allah, laksana mayat di tangan orang yang memandikannya.
Puncak perkembangan sikap tawakal adalah maqam ridha yakni menerima apa saja yang telah ditetapkan Allah, baik kesusahan maupun kesenangan. Ridha itu muncul dari keyakinan bahwa ketetapan Allah untuk seseorang lebih baik daripada keputusan orang itu sendiri bagi dirinya.
Setelah maqam ridha, seorang sufi akan mencapai maqam puncak yaitu mahabbah dan ma’rifah. Dalam Lisan al-‘Arab ada dua akar  kata yang  digunakan untuk mahabbah yaitu hibbah dan hubb. Kata hibbah berarti benih yang jatuh ke bumi di mana cinta adalah sumber kehidupan sebagaimana benih adalah sumber tanaman. Kata hubb berarti tempayan yang penuh dengan air yang tenang, karena bila cinta telah memenuhi hati, maka tidak ada tempat lagi bagi yang lain selain yang dicintai. Menurut  Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi, cinta seorang hamba kepada Allah pertama sekali muncul  dari pandangan mata lahirnya terhadap nikmat  yang telah diberikan Allah kepadanya, sementara mata hatinya memandang kedekatan Allah, merasakan pertolongnnya yang besar, serta pemeliharaan dan pengawasan Allah terhadap dirinya. Setelah sampai pada maqam mahabbah muncul ma’rifah atau sebaliknya ma’rifah lebih dulu muncul, baru mahabbah. Para sufi berpendapat bahwa ma’rifah Allah adalah melihat Allah dengan hati nurani dan  ma’rifah adalah itu sendiri adalah kurnia Allah
Abdul Karim al-Qusyairi, tokoh tasawuf Sunni mengemukakan tiga media dalam diri manusia yang dapat digunakan untuk ma’rifah Allah yaitu qalb (hati/kalbu), ruh (roh), dan sirr. Qalb untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, roh untuk mencintai Tuhan, dan sirr untuk mengenal Tuhan. Sirr inilah yang dapat menerima pancaran cahaya ilahi, ketika ia telah disucikan dari berbagai kotoran. Al-Ghazali m3nggambarkannya sebagai daya yag paling peka dalam diri manusia.(Asep Usman Ismail dlm Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, 2002:307-315)
Di samping maqamat  terdapat pula ahwal (keadaan) di mana maqam lebih merupakan tempat atau martabat seorang hamba di depan Allah  pada saat ia berdiri di hadapan-Nya. Maqam diperoleh dengan latihan (riyadhah) dalam hidup keseharian, sementara ahwal adalah kurnia Allah yang datang secara tiba-tiba. Maqamat merupakan proses pembelajaran untuk smpai kepada tujuan ideal tasawuf. Secara garis besar proses pembelajaran tersebut memiliki tiga tahap. Pertama,    takhalli yakni mengosongkan diri dari sifat-sifat keduniawian yang tercela. Kedua, tahalli yaitu mengisi dan menghiasi diri serta membiasakan diri dengan sifat, sikap, dan perbuatan yang baik. Ketiga, tajalli adalah lenyapnya sifat-sifat kemanusiaan yang rendah dan digantikan dengan sifat-sifat ketuhanan.
C. Psikologi Memandang Manusia.
Berangkat dari pengertian psikologi sebagai ilmu yang menelaah perilaku manusia, para ahli psikologi umumnya berpandangan bahwa kondisi ragawi, kualitas kejiwaan, dan situasi lingkungan merupakan penentu utama perilaku dan corak kepribadian manusia. Dalam hal ini unsur rohani  tidak masuk hitungan, karena dianggap termasuk dimensi kejiwaan dan merupakan penghayatan subjektif semata.  Di samping itu, filsafat manusia yang melandasi psikologi bercorak antroposentrisme di mana manusia ditempatkan sebagai pusat dari segala pegalaman dan segenap relasinya serta penentu utama segala peristiwa yang berkaitan dengan manusia dan kemanusiaan.
Sampai akhir abad keduapuluh, terdapat empat aliran besar psikologi yakni Psikoanalisis, Perilaku (Behaviorisme), Humanistik, dan Transpersonal. Masing-masing aliran melihat manusia dari sudut pandang berbeda, dan dengan metodologi tertentu berhasil menentukan berbagai dimensi dan asas tentang kehidupan manusia, lalu membangun teori dan filsafat tentang manusia.
Aliran Psikoanalisis yang dipelopori oleh Freud (1856 – 1939) berangkat dari pengalaman dengan para pasiennnya. Ia menemukan berbagai dimensi dan prinsip tentang manusia, kemudian menyususn teori yang sangat mendasar, majemuk, serta luas implikasinya dalam bidang ilmu-ilmu sosial, humaniora, filsafat, dan ilmu agama, serta memberikan inspirasi terhadap berbagai karya seni.
Freud berpendapat bahwa kepribadian manusia terdiri atas tiga sistem yaitu Id (dorongan-dorongan biologis), Ego (kesadaran terhadap realitas kehidupan), dan Superego (kesadaran normatif) yang berinteraksi satu sama lain dan masing-masing  memiliki fungsi dan mekanisme yang khusus. Id adalah berbagai potensi yang terbawa sejak lahir, insting dan nafsu primer, sumber energi psikis yang memberi daya kepada Ego dan Superego untuk menjalankan fungsi-fungsinya.  Selain dari itu, manusia juga memiliki tiga tingkatan kesadaran yaitu Alam Sadar (The Conscious), Alam Prasadar (The Preconscious), dan Alam Taksadar (The Unconscious).  Psikoanalisis klasik dari Freud beranggapan bahwa perilaku manusia banyak dipengaruhi  oleh Alam Taksadar dan dorongan-dorongan biologis (termasuk nafsu) yang selalu menuntut kenikmatan untuk segera dipenuhi. Dengan demikian, Psikoanalisis klasik beranggapan bahwa pada hakikatnya manusia adalah buruk, liar, kejam, sarat nafsu, egois dan sejenisnya yang berorientasi pada kenikmatan jasmani.
Aliran  Perilaku (Behaviorisme) beranggapan bahwa manusia pada hakikatnya netral, baik buruknya perilaku seseorang dipengaruhi oleh situasi dan perlakuan yang dialaminya. Psikologi Perilaku memberikan sumbangan besar dengan ditemukannya asas-asas perubahan perilaku yang banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan, psikoterapi, pembentukan kebiasaan, perubahan sikap, dan penertiban sosial melalui law enforcement dalam bentuk:
a) Classical Conditioning (pembiasaan klasik) yaitu rangsang (stimulus) netral akan menimbulkan pola reaksi tertentu apabila rangsang itu sering diberikan bersamaan dengan rangsang lain yang secara alamiah menimbulkan pola reaksi tersebut.
b) Law of effect (hukum akibat) yakni perilaku yang menimbulkan akibat-akibat yang memuaskan pelaku cenderung diulangi; sebaliknya  perilaku yang menimbulkan akibat tidak memuaskan atau merugikan cenderung dihentikan.
c)   Operant conditioning (pembiasaan operan): suatu pola perilaku akan mantap apabila berhasil diperoleh hal-hal yang diinginkan pelaku (penguat positif) atau mengakibatkan hilangnya hal-hal yang tak diinginkan (penguat negatif). Di sisi lain suatu pola perilaku tertentu akan menghilang apabila perilaku itu mengakibatkan dialaminya hal-hal yang tidak menyenangkan (Hukuman), atau mengakibatkan hilangnya hal-hal yang menyenangkan pelaku (Penghapusan).
d)  Modeling (peneladanan): perubahan perilaku dalam kehidupan sosial terjadi karena proses dan peneladanan terhadap perilaku orang lain yang disenangi dan dikagumi.
Keempat asas perubahan perilaku itu berkaitan langsung dengan proses belajar yang melibatkan unsur-unsur kognisi (pemikiran), afeksi (perasaan), konasi (kemauan), dan aksi (tindakan) atau dengan kata lain meliputi unsur cipta, rasa, karsa, dan karya.
Aliran psikologi Humanistik memandang manusia berbeda dengan Psikoanalisa yang beranggapan bahwa manusia pada hakikatnya buruk, berbeda pula dengan aliran Behaviorisme yang menganggap manusia pada hakikatnya netral. Aliran ini menganggap manusia pada dasarnya memiliki potensi-potensi baik. Asumsi dasar yang digunakan dalam memandang manusia bahwa manusia memiliki otoritas atas kehidupan dirinya sendiri. Aliran Logonterapi yang dikelompokkan orang pada aliran Humanistik menemukan ada dimensi lain dalam diri manusia selain dari dimensi raga (pisik) dan kejiwaan (psikis). Dimensi lain itu adalah noetik atau disebut juga dimensi kerohanian, namun tidak mengandung konotasi agamis. Victor Frankl yang menemukan Logoterapi memandang dimensi ini sebagai inti kemanusiaan dan merupakan sumber makna hidup.
Aliran Tanspersonal berpandangan bahwa manusia memiliki potensi-potensi luhur (the highest potentials) dan fenomena kesadaran (states of consciousness). Gambaran selintas tentang Psikologi Transpersonal bahwa aliran ini mencoba menjajaki dan melakukan telaah ilmiah terhadap suatu dimensi yang sejauh ini lebih dianggap sebagai garapan kalangan kebatinan dan mistikus. Aliran ini berpendapat bahwa di luar alam kesadaran biasa terdapat ragam dimensi lain yang luar biasa potensinya. (Bastaman,  2005:49-54)
Teori-teori yang  dikonstruksi oleh para ahli psikologi dalam berbagai aliran telah memberikan sumbangan besar dalam pembentukan perilaku dan kepribadian manusia. Di samping itu, perkembangan psikologi yang sangat pesat dengan berbagai cabang antara lain, Psikologi Perkembangan, Psikologi Pendidikan,   Psikologi Komunikasi, Psikologi  Abnormal,   dan lain-lain telah mendominasi ilmu-ilmu sosial dan humaniora.  Teori-teori yang dihasilkan   telah diaplikasikan untuk berbagai lini kehidupan dan boleh dikatakan cukup efektif dalam pembentukan perilaku.
D. Aplikasi Integrasi dan Interkoneksi
Telah dikemukakan di atas bahwa ajaran pokok tasawuf berkisar sekitar proses penyucian jiwa dan jalan pendekatan diri menuju Tuhan. Pembentukan perilaku saleh dan mendekatkan diri pada Allah terus menerus tanpa putus menjadi tujuan dari tasawuf. Teori-teori psikologi yang telah ditemukan para ahli Psikologi  dengan berbagai aliran dapat berintegrasi dan berinterkoneksi dengan Tasawuf.
Secara sepintas dipahami bahwa aliran Humanistik lebih mirip dengan kajian tasawuf, namun terdapat perbedaan yang mendasar. Dalam mengadakan penelitian, mengikuti cara fenomenologis di mana penelitian dilakukan terhadap manusia dengan mengungkap apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan, tanpa membawa praduga terlebih dahulu. Logonterapi yang termasuk aliran ini melihat bahwa ada dimensi lain dalam diri manusia yakni noetik (kerohanian) hanya saja tidak memperlihatkan nuansa agama. Penelitian-penelitian yang dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik antara lain yang dilakukan oleh Abraham Maslow menemukan lima jenjang kebutuhan manusia yakni kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Hanya saja tidak dapat dijelaskan apakah setelah lima jenjang kebutuhan tersebut terpenuhi, manusia akan menjadi statis dan berhenti berperilaku atau tetap berperilaku. Seandainya tetap berperilaku dikhawatirkan muncul sikap antroposetrisme di mana manusia percaya diri dengan kemampuannya dan memperlakukan manusia lain sesuai kemauannya. Pada hakikatnya, kajian tasawuf dapat mengisi ruang ini dengan mengaitkan pada ajaran Tuhan.
Ajaran ini memberikan rambu-rambu tentang  cara berhubungan dengan Tuhan dan berhubungan dengan manusia. Dalam dua bentuk hubungan itu harus ada keadilan dan keseimbangan agar menjadi   manusia sempurna (insan kamil). Ajaran tasawuf dengan berbagai maqamat yang harus dilewatinya selalu melatih dan membiasakan diri dengan takhalli                  ( mengosongkan diri dari sifat-sifat buruk/keduniaan), tahalli (membiasakan diri dan memakai sifat-sifat terpuji), dan tajalli (merealisasikan sifat-sifat terpuji dalam kehidupan).  Agar pelaksanaan latihan tersebut dapat  dilakukan dengan baik,  diperlukan bantuan psikologi yang telah menemukan teknik pembelajaran dan perubahan perilaku yang telah ditemukan oleh tokoh-tokoh aliran Behaviorisme..
Teori Abraham Maslow tentang pengalaman puncak (peak experinence) boleh dikatakan mirip dengan maqam tertinggi wahdatul wujud dari Ibnu ‘Arabi. Keduanya mengemukakan pendapat  tentang bersatunya individu dengan alam, hanya saja Ibnu ‘Arabi menghubungkan dengan Tuhan, Pencipta alam di mana dia melihat bayangan Tuhan di alam, semetara Maslow tidak menyertakan nuansa keagamaan.  
Selain dari itu teknik-teknik asesmen dalam psikologi untuk mengukur berbagai perilaku dapat pula digunakan buat mengukur perilaku saleh yang dikemukakan dalam tasawuf.  Psikologi telah menemukan teknik-teknik yang relatif tepat untuk mengetahui dimensi kejujuran, keamanahan, meningkatkan semangat kerja, dan lain-lain, namun  belum  memasukkan dimensi pengontrolan Tuhan terhadap perilaku manusia. Perilaku beriman dan berihsan dengan menyeimbangkan antara hakikat dan syari’at dapat diketahui dengan teknik-teknik asesmen tersebut.
Penelitian-penelitian masyarakat yang bernuansa Tasawuf dapat pula diintegrasikan dengan Psikologi. Konsep-konsep tasawuf diupayakan pengukurannya dengan teknik pengukuran pskologis. Hal ini dapat dilakukan baik untuk metode penelitian dengan jenis  kuantitatif, maupun kualitatif.  Tanpa menghiraukan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode, menurut penulis  penelitian kualitatif lebih mendekati kebenaran untuk penelitian tasawuf daripada penelitian kuantitatif.  Dengan demikian,  penelitian tasawuf tidak hanya dapat dilakukan dengan library research, tetapi juga berlaku untuk penelitian lapangan atau penelitian konteks.
D. Kesimpulan
Kajian  keislaman diantaranya Tasawuf dapat  berintegrasi dan berinterkoneksi dengan Psikologi.  Dengan perpaduan tersebut,  kajian tasawuf lebih diminati dan dapat berkembang seiring dengan perkembangan Ilmu-ilmu Sosial  dan Humaniora.  Kajian-kajian yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Agama, sudah waktunya mengembangkan perpaduan demikian agar kajiannya lebih prospektif..
KEPUSTAKAAN
Bastaman, Hanna Djumhana, Integrasi Psikologi dengan Islam, Yogyakarta: Yayayasan Insan Kamil & Pustaka Pelajar, cet. IV, 2005.
Esposito,  John L. (ed) terj. Eva Y. N dkk. “Sufisme” dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam   Modern , Jilid 5, Bandung: Mizan, 2001.
Fromm, Erich. The Anatomy of Human Destructiveness, terj. Imam Muttaqin. Akar Kekerasan, Analisis Sosio Psikologis atas Watak Manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet II, 2001
Al-Ghazali. Ihyaa! ‘Ulumud Diin, juz 3,  Mesir: ‘Isa al-Babiy al-Halabiy wa   Syurakauh, tt.
Goble, Frank G. terj. A. Supratiknya, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta: Kanisius, 1999
Hasan, Aliah B. Purwakania, Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Imail, Asep Usman “Tasawuf” dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2002
Muhammad, Hasyim. Dialog antara Tasawuf dan Psikologi, Yogyakarta: Walisongo Press & Pustaka Pelajar, 2002
Mujib, Abul, Kepribadian dalam Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
An-Najar, Amir. Al-‘Ilmu an-Nafs ash-Shufiyyah, terj. Hasan Abrari, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf, Jakarta: Pustaka Azzam, cet. II, 2001
Najati, Muhammad Usman, Al-Quran wa ‘Ilm al-Nafs, Kairo: Dar al-Syuruq, cet. VI, 1417 H/ 1997 M
———————————, Al-Hadits wa ‘Ulum an-Nafs, terj. Zainuddin Abu Bakar. Psikologi dalam Perspektif Hadis, Jakarta: Pustaka al Husna Baru, 2004
Nashori, Fuad, Potensi-potensi Manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. II, 2005
Sapuri, Rafi. Psikologi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2009
Taufiq, Muhammad Izzudin. At-Ta’shil al-Islami li l-Dirasati al-Nafsiyyah, terj. Sari Narulita, Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islam, Jakarta: Gema Insani, 1427 H/     2006 M

 Makalah disajikan dalam Annual Conference Islamic Studies (ACIS) pada tanggal 3 November 2009 di Surakarta
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Afif Amrullah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger