bnrt

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Dzikir dalam Ajaran Hindu, Kristen, Sikh & Islam

Selasa, 05 Juni 2012


Ditulis Oleh: Quito Riantori Mortinggo

Ternyata ajaran Zikir tidak hanya ada di dalam agama Islam saja. Di dalam hampir semua agama, ternyata ada doktrin Mengingat (zikir) Tuhan. Misalnya agama Hindu, di dalam Kitab Bhagavad Gita tercantum ajaran suci ini sebagaimana disebutkan di dalam edisi Bahasa Inggerisnya :

“I am easily attainable by that ever steadfast Yogi who constantly remembers Me daily, not thingking another, O Partha!” (Bhagavad Gita VIII – 14) Yang mungkin dapat diterjemahkan : “Aku dengan mudah dapat dicapai melalui ketabahan Yogi yang secara langgeng mengingat-Ku setiap hari dan tiada memikirkan yang lain, wahai Partha!”

Ajaran Hindu mengistilahkan mengingat Tuhan dengan istilah Smarana.

Di dalam ajaran Hindu, ajaran mengingat Tuhan ini diajarkan untuk dipraktekkan secara terus menerus sepanjang hidup seseorang sebagai Jalan Keyakinan untuk mencapai DIA.

Seseorang yang senantiasa mengingat-Nya selama enam bulan dan meninggalkan praktek tersebut untuk sementara, kemudian kembali melanjutkan praktek mengingat-Nya selama enam bulan lagi dan begitu seterusnya tidak akan dapat mencapai DIA. Mengingat-Nya harus dilakukan secara kontinyu tanpa henti dan tiada mengenal waktu, keadaan dan tempat.

Di dalam Ajaran Hindu, praktek mengingat Tuhan juga termasuk mendengarkan kisah-kisah yang berkaitan dengan Tuhan, membicarakan tentang Dia, mengajarkan kepada orang lain tentang Dia dan melakukan meditasi tentang sifat-sifat-Nya secara terus menerus.

Smarana adalah ajaran untuk mengingat nama dan sifat-sifat-Nya dengan tidak putus-putus. Pikiran harus dibersihkan dari obyek apapun dari dunia.

Smarana adalah suatu keadaan dimana pikiran menjadi terpikat oleh Kemuliaan Tuhan semata.

Praktek Smarana ini tidak dibatasi oleh waktu-waktu tertentu. Tuhan harus senantiasa diingat di setiap saat tanpa terputus sepanjang seseorang masih dalam kesadarannya yang utuh. Dimulai dari bangun tidur di pagi hari sampai seseorang kembali tidur setelah dirinya merasakan penat di malam hari.

Di dunia ini seseorang tidak memiliki kewajiban lainnya selain Mengingat Tuhan. Mengingat Tuhan semata dapat menghancurkan semua tekanan-tekanan duniawi. Mengingat Tuhan semata dapat mengalihkan pikiran kita dari obyek-obyek pikiran.


Mengingat Tuhan adalah metoda Sadhana yang sangat sulit. Adalah tidak mungkin mengingat-Nya setiap saat secara kontinyu. Pikiran sering memperdaya seseorang. Seseorang bisa saja berpikir bahwa dirinya sedang bermeditasi atas Tuhan tetapi aktualnya dia sedang memikirkan beberapa obyek dunia ini atau memikirkan untuk mendapat nama dan ketenaran atau kemasyhuran.

Demikianlah ajaran Hindu mengajarkan doktrin Smarana atau Mengingat Tuhan. Anda bisa lihat lebih jauh lagi tentang ini di:(www.divinelifesociety.org/discourses/s.../practise_of_the_remenbrance_of _god.htm)

Di dalam ajaran Sikh Darma pun, Sang Guru menyuruh manusia untuk mengingat Tuhan di setiap tarikan nafasnya dan mengatakan bahwa penyakit ruhani akan datang kepada manusia pada saat ia melupakan Tuhan. Sang Guru berkata:

“All afflictions visit the person who forget God’s name”

“Semua penderitaan akan datang mengunjungi seseorang yang melupakan nama Tuhan”

“When i repeat His name i am alive, when i forget to do so i die”

“Ketika saya mengulang-ulang menyebut nama-Nya maka akupun hidup, (sebaliknya) ketika aku lupa melakukan hal itu maka aku pun mati”

Demikian Guru-guru Sikh mengajarkan doktrin Mengingat Tuhan. (www.sikh-dharma.org.uk)

Ajaran Mengingat Tuhan juga termaktub di dalam The Gospel of Barnabas (Injil Barnabas) pasal 109 seperti yang tertulis di dalam Edisi Inggerisnya :


“As God liveth, in whose presence standeth my soul, it is lawful to sleep somewhat every night, but it is never lawful to forget God and his fearful judgement: and the sleep of the souls is such oblivion.'

Then answered he who writeth: `O master, how can we always have God in memory? Assuredly, it seemeth to us impossible.'

Said Jesus, with a sigh: `This is the greatest misery that man can suffer, O Barnabas. For man cannot here upon earth have God his creator always in memory; saving them that are holy, for they always have God in memory, because they have in them the light of the grace of God, so that they cannot forget God. But tell me, have ye seen them that work quarried stones, how by their constant practice they have so learned to strike that they speak with others and all the time are striking the iron tool that worketh the stone without looking at the iron, and yet they do not strike their hands? Now do ye likewise. Desire to be holy if ye wish to overcome entirely this misery of forgetfulness. Sure it is that water cleaveth the hardest rocks with a single drop striking there for a long period.


Do ye know why ye have not overcome this misery? Because ye have not perceived that it is sin. I tell you then that it is an error, when a prince giveth thee a present, O man, that thou shouldst shut thine eyes and turn thy back upon him.

Even so do they err who forget God, for at all times man receiveth from God gifts and mercy.'

Yesus berkata : “Demi Allah yang aku berdiri di hadapan-Nya bahwa tidur sejenak tiap malam itu dibolehkan, akan tetapi sama sekali tidak dibolehkan melupakan Allah dan Hari Pembalasan-Nya yang dahsyat itu. Sedang tidurnya roh itu tiada lain hanya kelupaan”

Bertanyalah yang menulis ini (Barnabas) : “Wahai Guru, bagaimanakah kita dapat selalu mengingat Allah? Bagi kami, hal itu nampaknya mustahil”

Sambil menarik nafas panjang Yesus menjawab, “Sebenarnya itu adalah sebesar-besarnya kesengsaraan yang diderita oleh manusia wahai Barnabas! Karena di sini di bumi ini manusia tidak bisa secara terus menerus ingat kepada Allah Penciptanya, kecuali para manusia suci.

Mereka terus menerus mengingat Allah, karena pada diri mereka ada cahaya nikmat Allah sehingga mereka tidak bisa melupakan-Nya. Akan tetapi katakanlah padaku, ‘Adakah kamu lihat mereka yang bekerja mengeluarkan batu-batu dari gunung, betapa dengan kebiasaan yang terus menerus mereka bisa memukul sambil bercakap-cakap dengan pukulan besi di atas batu tanpa melihatnya dan tanpa mengenai tangan mereka? Maka berbuatlah kamu sedemikian itu.

Bercita-citalah untuk menjadi manusia manusia suci jika kamu benar-benar menginginkan untuk mengalahkan kesengsaran lalai itu. Maka dapat dipastikan bahwa air itu bisa melubangi batu yang paling keras (sekalipun) dengan tetesan air yag jatuh di atasnya berulang kali dalam waktu yang lama.

Tahukah kamu mengapa kamu tidak bisa mengalahkan kesengsaraan itu? Karena kamu belum mengerti bahwa itu (lalai dari mengingat-Nya) adalah suatu dosa! Dari itu kukatakan kepadamu wahai insan! Bahwa sungguh suatu kesalahan apabila engkau diberi oleh seorang Raja suatu anugerah namun engkau malah memejamkan kedua matamu dan kamu palingkan wajahmu daripadanya. Begitulah (perumpamaan) kesalahan mereka yang lalai dari mengingat-Nya. Karena (sesungguhnya) manusia itu secara terus menerus menerima karunia-karunia dan nikmat dari Tuhan” (Injil Barnabas Pasal 109)

Juga di dalam Perjanjian Lama , Nehemiah 4 : 14 pun tertulis :

“After i looked these things over, i stood up and said to the nobles and the officials and rest of the people, ‘Do not be affraid of them. Remember the Lord, who is great and awesome and fight for your kin, your son, your daughters, your wives and your homes”

“Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: "Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah Tuhan Yang Maha Besar dan Dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.”

Di dalam al-Quran, kata adz-dzikr disebutkan sebanyak 285 kali dalam berbagai bentuk. 18 kata di antaranya berarti laki-laki (dzukuur). Di samping kata dzikr, dalam al-Qur’an juga terdapat kata muddakkir (memakai huruf dal), yang oleh Muhammad Fuad al Baqi, (penyusun Kitab al-Mu’jam al-Mufahras) dimasukkan dalam kelompok kata dzikr.

“Sungguh, berzikir kepada Allah itu adalah perkara yang teramat besar!”
(QS Al-Ankabut [29] ayat 45)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah…

Lebih Mudah Mengenal Tuhan


Mukaddimah

Berbagai argumentasi telah ditulis, dihimpun dan disampaikan oleh para filosof Ilahi dan para ulama Kalam untuk membuktikan wujud Tuhan Pencipta. Pembahasan ini dibahas dalam kitab-kitab Filsafat dan Kalam secara jeluk. Pada pembahasan berikut ini, kami akan memilih sebuah argumen saja dari sekian banyak argumen tersebut. Argumen ini berlandaskan pada premis-premis yang lebih minim, sehingga lebih mudah untuk dipahami. Namun demikian, argumen ini nampak lebih kuat.

Perlu diketahui bahwa argumen filosofis ini hanya dapat membuktikan wujud Tuhan Pencipta sebagai Wâjib al-Wujud (wujud yang pasti). Artinya bahwa Tuhan Pencipta itu maujud, dan wujud-Nya merupakan hal yang dharuri (niscaya) tanpa memerlukan apa dan siapapun -selain-Nya- yang mewujudkan-Nya.

Adapun untuk menetapkan sifat-sifat-Nya, baik yang positif (tsubutiyah=menetapkan sifat-sifat kesempurnaan) seperti; sifat ilmu, kuasa maupun yang negatif (salbiyah=menafikan sifat-sifat kekurangan) seperti; tidak beraga, tak terbatas oleh ruang dan waktu. Hal ini tidak dapat dibuktikan dengan argumen filosofis ini, melainkan harus dibuktikan dengan argumen lain. 


Bentuk Argumentasi

Berdasarkan asumsi rasional, realitas terbagi menjadi dua; Wâjib al-wujud (wujud yang bersifat pasti) dan mumkin al-wujud (wujud yang bersifat mungkin). Setiap fenomena dan realitas, baik yang dapat diindera, dipersepsi maupun tidak -secara rasional- tidak keluar dari asumsi tersebut. Yaitu terkadang bersifat wâjib al-wujud dan terkadang bersifat mumkin al-wujud. Dengan demikian, kita tidak mungkin mengatakan bahwa seluruh realitas itu bersifat Wâjib al-wujud ataupun mumkin al-wujud. Karena segala yang bersifat mumkin al-wujud itu membutuhkan kepada sebab dan pencipta yang mandiri atau Wâjib al-wujud. Sementara jika dikatakan bahwa segala yang ada itu bersifat Wâjib al-wujud, maka hal ini memestikan kemandirian semua itu, dan hal ini merupakan hal yang badhihi (gamblang) kebatilannya, sehingga tidak memerlukan argumen.

Apabila setiap sebab itu masih berupa mumkin al-wujud, maka ia merupakan akibat yang tentunya membutuhkan kepada sebab yang lain yang mewujudkannya. Dan pada akhirnya, jika setiap sebab itu bersifat mumkin al-wujud, maka tidak akan ada realitas apa pun sama sekali. Artinya, bahwa rangkaian sebab-sebab itu sebenarnya adalah merupakan rangkaian akibat "yang mungkin" dan keberadaannya tidak bersifat pasti.

Oleh karena itu, rangkaian mumkin al-wujud menjadi ada manakala ia berakhir kepada suatu realitas yang bukan lagi akibat dari realitas apapun. Artinya, bahwa rangkaian wujud itu akan berakhir pada Wâjibul wujud.

Argumen di atas ini adalah argumen filsafat yang paling sederhana untuk menetapkan (itsbât, to proof) wujud Tuhan Sang Pencipta. Argumen di atas terdiri dari beberapa premis rasional, tanpa melibatkan premis empirik di dalamnya. Tetapi, karena argumen semacam ini biasanya menggunakan sejumlah konsep dan istilah filosofis, terlebih dahulu kita harus menjelaskan beberapa istilah dan premis yang menyusun argumen ini. 


Wujub, Imkan dan Mumtani’


Setiap proposisi, yang paling sederhana sekalipun, sekurang-kurangnya mesti tersusun dari dua konsep; subjek (maudhu’) dan predikat (mahmul). Misalnya proposisi yang berbunyi: "Matahari itu bersinar". Proposisi ini terdiri dari matahari sebagai subjek dan bersinar sebagai predikat. Dan setiap predikat suatu subjek itu tidak akan keluar dari salah satu tiga kondisi; ada yang bersifat dharuri (niscaya dan tidak terpisahkan), ada yang bersifat imkan (mungkin) dan ketiga ada yang bersifat mumtani’ (tercegah atau mustahil). Predikat yang bersifat dharuri dan pasti seperti proposisi yang berbunyi: Angka 2 adalah setengah dari angka 4, dan gula itu manis. Predikat yang bersifat imkan seperti pada proposisi: Bunga itu merah, dan matahari di atas kepala kita. Dan predikat yang bersifat mumtani’ (mustahil) seperti pada proposisi: Angka 5 itu lebih besar dari angka 7, dan madu itu pahit. Mengingat bahwa filsafat hanya membahas sesuatu yang ada, dan tidak membahas sesuatu yang tidak ada, maka para filosof membagi realitas hanya kepada dua bagian, yaitu Wâjib al wujud dan mumkin al-wujud.

Wâjib al-wujud adalah realitas yang ada dengan sendirinya, artinya wujudnya bersifat mandiri dan tidak bergantung kepada realitas yang lain. Dan realitas yang wujudnya dharuri ini bersifat azali (tidak bermula) dan abadi (tidak berakhir) walau sekejap pun. Dia senantiasa ada dan tidak pernah mengalami ketiadaan. Karena, apabila sesuatu itu ma'dum (tiada) pada masa tertentu -walaupun hanya sekejap saja- maka hal ini menunjukkan bahwa wujudnya itu bukan berdasarkan pada dirinya sendiri, tetapi membutuhkan kepada realitas selainnya yang merupakan sebab yang mewujudkannya atau sebagai syarat keberadaannya. Dengan demikian, jika sebab atau syarat itu tidak ada, maka sesuatu tersebut tidak akan ada. Sedangkan mumkin al-wujud adalah realitas yang wujud dan keberadaannya tidak dengan sendirinya, melainkan wujudnya itu diadakan dan bergantung kepada realitas selainnya. Dengan kata lain, mumkin al-wujud tidak mungkin terwujud kecuali dengan perantara selainnya.

Penjelasan rasional ini menafikan secara pasti adanya mumtani' al-wujud (sesuatu yang wujudnya bersifat mustahil). Pada saat yang sama, penjelasan ini tidak mengidentifikasi; apakah realitas di luar itu Wâjib al-wujud ataukah mumkin al-wujud. Dengan kata lain, kita dapat menggambarkan kebenaran sebuah proposisi tersebut dengan tiga asumsi:

Pertama, setiap realitas itu Wâjib al-wujud.

Kedua, setiap realitas itu mumkin al-wujud.

Ketiga, sebagian realitas itu Wâjib al-wujud, dan sebagian lainnya adalah mumkin al-wujud.

Berdasarkan asumsi pertama dan ketiga, keberadaan Wâjib al-wujud telah dapat ditetapkan. Namun yang perlu kita bahas lebih lanjut adalah asumsi kedua, yaitu apakah mungkin setiap realitas itu bersifat mumkin al-wujud? Apabila kita dapat menggugurkan asumsi ini, maka keberadaan Wâjib al-wujud dapat ditegaskan secara pasti, walaupun untuk menetapkan keesaan dan seluruh sifat-sifat-Nya diperlukan argumentasi tersendiri.

Untuk menggugurkan asumsi kedua, kita perlu menambahkan premis lain ke dalam argumen terdahulu itu, yaitu bahwa seluruh realitas tidak mungkin bersifat mumkin al-wujud. Premis ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

o Bahwa mumkin a- wujud itu butuh kepada sebab yang mewujudkannya.

o Bahwa rangkaian sebab-sebab yang tak berujung adalah mustahil. Oleh karena itu, rangkaian sebab-sebab itu harus berakhir kepada realitas yang bukan berupa mumkin al-wujud yang tidak butuh lagi kepada sebab. Artinya, ia adalah Wâjib al-wujud. Dengan dua premis tersebut, maka dapat ditetapkan bahwa tidak setiap realitas itu bersifat mumkin al-wujud. Artinya ada ralitas yang bersifat Wâjib al-wujud dan selainnya adalah mumkin al-wujud. 


Illah dan Ma’lul


Apabila wujud suatu realitas itu bergantung kepada realitas yang lain, maka -di dalam Filsafat- realitas yang bergantung itu disebut sebagai akibat (ma'lul), dan realitas yang disandarinya atau digantunginya itu disebut sebagai sebab (‘illah). Dan hal ini tidak menafikan bahwa sebab ini sendiri masih bergantung kepada sebab yang lainnya. Artinya, bahwa pada gilirannya sebab itu sendiri masih membutuhkan dan bergantung kepada sebab yang lainnya, dimana ia juga merupakan akibat dari realitas ketiga ini. Namun, jika sebab itu bukan akibat dan tidak bergantung kepada yang lain, maka ia adalah sebab mutlak yang tidak butuh kepada selainnya sama sekali. Dengan penjelasan ini kita telah mengenal dua istilah filsafat; Illah dan Ma’lul, serta definisi keduanya.

Selanjutnya, kami akan menjelaskan premis bahwa setiap mumkin al-wujud itu membutuhkan kepada sebab. Mengingat bahwa keberadaan mumkin al-wujud itu tidak dengan sendirinya, maka wujud mumkin al-wujud tersebut bergantung kepada realitas yang lain. Kemudian perlu juga diketahui bahwa suatu predikat jika dinisbatkan kepada suatu subjek, adakalanya predikat itu bisa ditetapkan pada subjeknya itu secara dzati (esensial), dan adakalanya ditetapkan secara aradhi (aksidental). Misalnya, adakalanya sesuatu itu terang secara esensial, yakni terang dengan sendirinya seperti matahari, adakalanya ia terang karena sesuatu yang lain, misalnya rembulan. Atau, setiap benda (jism) adakalanya berminyak dengan sendirinya seperti minyak, atau berminyak dengan perantara yang lainnya seperti rambut yang diminyaki. Adapun jika didapati asumsi bahwa sesuatu itu terang atau berminyak tidak dengan sendirinya, tidak pula melalui perantara yang lain, maka hal itu merupakan asumsi yang absurd (muhâl).

Dengan demikian, adakalanya ketetapan wujud (sebagai predikat) pada suatu subjek itu secara esensial, yaitu dengan sendirinya dan tanpa perantara yang lain, atau dengan perantara yang lain. Apabila ketetapan wujud pada suatu subjek tidak dengan sendirinya, maka pasti wujudnya itu ditetapkan dengan perantara yang lain. Atas dasar ini, setiap mumkin al-wujud (yang mungkin wujudnya) itu ada dengan perantara yang lain dan ia adalah akibat baginya.

Adalah kaidah Logika yang diterima oleh semua orang yang berakal, bahwa setiap mumkin al-wujud membutuhkan sebab. Namun, berangkat dari pengertian Hukum Kausalitas; bahwa setiap realitas membutuhkan kepada sebab, sebagian orang menganggap bahwa seharusnya wujud Tuhan Pencipta itu pun mempunyai sebab. Mereka lalai bahwa subjek pada Hukum Kausalitas itu bukanlah realitas secara mutlak, tetapi realitas yang bersifat mumkin atau ma'lul (akibat). Dengan kata lain, setiap realitas "yang tidak berdiri sendiri" membutuhkan sebab, bukan setiap realitas tanpa ajektif itu.


Kemustahilan Tasalsul


Premis terakhir yang digunakan dalam argumentasi ini ialah bahwa mata rantai sebab-sebab itu harus berakhir pada realitas yang dirinya bukan lagi akibat, melainkan sebab yang mandiri. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para teolog, bahwa tasalsul (mata rantai sebab-akibat yang tak berujung) itu mustahil. Atas dasar ini, dapat dibuktikan wujud Tuhan sebagai Wâjib al-wujud. Bahwa Wajib al-wujud merupakan sebab pertama yang ada dengan sendirinya dan tidak perlu kepada wujud yang lain.

Para filosof telah mengajukan berbagai argumen untuk menunjukkan kemustahilan tasalsul ini, meski pada dasarnya hal itu adalah masalah yang nyaris badihi dan tidak perlu kepada pembuktian. Dan setiap orang yang mau merenung, walau sejenak, pasti akan dapat memastikan kemustahilan tasalsul tersebut. Artinya, setiap wujud akibat itu membutuhkan kepada sebab dan keberadaannya disyarati oleh keberadaan sebab tersebut.

Apabila diasumsikan bahwa segala sesuatu itu adalah akibat dan semuanya itu membutuhkan kepada sebab, maka tidak akan terealisasi realitas apa pun. Karena tidaklah logis meng-asumsikan adanya mata-rantai yang saling bergantungan tanpa suatu wujud yang merupakan puncak kebergantungan mata rantai tersebut. Sebagai contoh, lomba lari maraton. Apabila seluruh peserta lomba berdiri di garis start, berarti mereka siap untuk berlomba. Tetapi, jika setiap anggota tidak mau memulai untuk berlari kecuali apabila yang lainnya memulai lari terlebih dahulu, apabila keputusan semacam ini diambil oleh seluruh peserta, maka tidak akan terjadi yang namanya perlombaan tersebut. Begitu pula, apabila wujud segala sesuatu itu disyarati dengan wujud yang lain, tidak akan terwujud sesuatu apa pun, sama sekali. Dengan demikian, adanya hal-hal objektif di luar ini merupakan bukti atas keberadaan realitas yang tidak membutuhkan; yang wujudnya itu tidak disyarati oleh wujud selainnya. Dialah Tuhan Pencipta yang wujud-Nya bersifat mandiri dan tidak butuh dan berhajat kepada selain-Nya.



keterbatasan akal dalam mengenal esensi tuhan


Prolog


Dilihat dari sisi penciptaan, manusia merupakan makhluk yang paling sempurna. Hal itu dapat dibuktikan melalui berbagai sarana yang dimilikinya. Lebih dari itu, para ilmuwan telah membuktikan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat berbagai unsur yang terkandung di jagad raya ini. Dengan kata lain, tubuh manusia merupakan miniatur jagad raya. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa manusia merupakan bentuk mikrocosmos. Sementara alam semesta ini sebagai makrocosmos.

Sebagaimana masih banyak teka-teki yang terdapat di alam semesta ini yang belum dapat disingkap oleh ilmu pengetahuan, demikian pula halnya bahwa di dalam tubuh manusia masih banyak persoalan yang menjadi tanda tanya besar bagi para ilmuan. Atas dasar itulah, seorang anthropolog terkemuka yang bernama Alexis Karl memberi nama karyanya tentang manusia dengan judul “Manusia, Makhluk Misterius”.

Dari sekian banyak unsur yang terdapat di dalam diri manusia, akal merupakan unsur terpenting yang membedakan ia dengan makhluk-makhluk hidup lainnya di jagad raya ini. Dengan akal, manusia dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan akal manusia mampu mencapai kemajuan sains dan teknologi. Dan dengan akal pula manusia dapat menjalani hidup bersosial, berpolitik, berbudaya, berbangsa dan bernegara dengan baik. Alhasil, dengan sarana akal manusia dapat mencapai kesempurnaan insaniah-nya. Tanpa akal manusia tidak akan dapat mencapai kesempurnaan dirinya. Dan tanpa akal manusia tak ubahnya bagaikan binatang yang hidupnya monoton dan tidak berkembang sesuai dengan tuntutan hidupnya sebagai manusia.




Akal dan Tuhan


Banyak pihak telah berusaha untuk mendefinisikan akal. Mereka telah mendefinisikan akal dari berbagai sudut pandang. Dalam kajian filsafat etika, biasanya akal dibagi menjadi dua bagian; akal teoritis dan akal praktis. Pada kesempatan ini kami tidak ingin menyibukkan diri untuk menentukan manakah definisi yang benar dan manakah yang salah, atau menjustifikasi semua definisi yang ada. Karena untuk hal itu diperlukan tulisan tersendiri di luar pembahasan ini.

Secara global, akal sering didefinisikan sebagai sarana pendeteksi hal-hal yang bersifat universal. Berangkat dari definisi tersebut, maka akal tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang bersifat partikular. Dengan uraian singkat ini dapat diambil kesimpulan, bahwa akal memiliki radius kemampuan yang sangat terbatas. Dengan kata lain bahwa akal manusia memiliki batasan-batasan pendeteksian tertentu yang berkaitan dengan hal-hal universal saja. Sedang hal-hal yang sangat partikular, akal akan angkat tangan dan tidak mampu untuk melakukan deteksi.

Untuk membuktikan keterbatasan dan kelemahan akal manusia, kami akan menyinggung dua argumen utama secara jelas dan bersifat rasional, khususnya dalam mendeteksi wujud Tuhan.. Pertama: Sehubungan dengan persoalan “Pembuktian keberadaan Tuhan” kita dapati bahwa semua yang ada di alam semesta ini merupakan hasil ciptaan Tuhan, termasuk manusia dan akalnya. Di dalam kajian ilmu filsafat telah dijelaskan secara detail mengenai hukum kausalitas bahwa “sebab” mesti memiliki semua kesempurnaan eksistensial “akibat”, dan bukan sebaliknya. Dengan ungkapan lain bahwa setiap “akibat” memiliki radius batasan yang lebih sempit dibanding “sebab” nya. Mata rantai sebab-akibat itu terus berjalan secara vertikal hingga berakhir pada satu “sebab” yang tidak memiliki penyebab dan kewujudannya tidak disebabkan oleh sebab apapun, yaitu “sebab” yang tidak memiliki batas dan bersifat absolut. Makhluk manusia merupakan salah satu bagian dari alam semesta yang tidak keluar dari mata rantai penciptaan. Oleh karena itu manusia memiliki keterbatasan dan kekurangan sesuai dengan peringkat eksistensi wujudnya. Sedang eksistensi Tuhan jauh di atas peringkat eksistensi manusia. Dari penjelasan ringkas ini dapat diambil kesimpulan bahwa ciptaan Tuhan yang bernama manusia dengan segala atribut yang disandangnya memiliki keterbatasan yang sangat tebal. Kedua: Setelah Kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang bersifat terbatas, dan bukan absolut, dengan demikian maka segala hal yang menempel pada dirinyapun tidak bersifat absolut tetapi memiliki berbagai kekurangan dan keterbatasan. Sementara sesuatu yang tidak terbatas dan bersifat absolut itu mustahil menempel dan bersandar pada sesuatu yang terbatas. Tidak seorangpun mengingkari bahwa setiap manusia memiliki akal sebagai alat berpikir. Apabila telah kita buktikan bahwa manusia itu merupakan makhluk dan ciptaan yang memiliki berbagai kekurangan dan keterbatasan, maka -dengan demikian- dapat kita tetapkan pula bahwa akal pikiran manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan pula. Dengan memperhatikan secara cermat uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa antara dua bentuk eksistensi terbatas tersebut, yaitu manusia dan akalnya terdapat keserasian. Dan hal itu merupakan konsekwensi logis antara keduanya.

Berkaitan dengan masalah Tuhan, banyak pembahasan teologis dan filosofis yang telah menetapkan bahwa Tuhan bersifat absolut dan tidak terbatas. Sementara akal manusia bersifat terbatas. Merupakan satu hal yang gamblang bagi semua orang bahwa mustahil sesuatu yang terbatas itu mampu mendeteksi semua sisi yang dimiliki oleh eksistensi yang bersifat absolut dan tidak batas. Dengan demikian hanya hal-hal yang bersifat universal dari Tuhan saja yang dapat dideteksi oleh akal manusia. Adapun esensi sejati Tuhan, maka akal manusia tidak mungkin mampu untuk mengenal dan mengetahuinya secara sempurna.


Epilog


Metode apapun yang akan dijadikan landasan dalam upaya mengenal Tuhan dan memahami eksistensi-Nya, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan sama sekali oleh setiap orang yang berupaya mengenal wujud Tuhan, yaitu mengakui kekurangan, kelemahan dan keterbatasan daya nalar akalnya. Tanpa mengakui kekurangan dan keterbatasan akalnya tersebut dapat menimbulkan banyak konsekwensi negatif bagi dirinya. Pertama: Dia akan menganggap bahwa hakikat dan esensi Tuhan hanya terbatas pada apa yang dia ketahui. Padahal sebenarnya esensi Tuhan jauh lebih dalam dari apa yang dipahaminya dan tidak mungkin ia dapat mencapainya. Perlu dipahami pula bahwa pemahaman manusia terhadap wujud Tuhan memiliki gradasi yang beragam. Dan pemahamannya itu akan terus berjalan menuju kepada satu titik kesempurnaan insaniahnya. Betapapun sempurnanya pengetahuan manusia -yang bersumber dari akalnya yang terbatas- tentang wujud Tuhan, ia tidak mungkin dapat mencapai hakikat dan esensi Tuhan yang tidak terbatas. Hakikat dan esensi Tuhan, tidak akan pernah dikenal oleh manusia sebagaimana layaknya Dia mengenal zat-Nya sendiri. Hal ini berkaitan dengan persoalan Tuhan itu sendiri.

Kedua: Dia akan merasa sombong dan bangga diri. Dan hal ini merupakan konsekwensi umum yang akan diperoleh setiap pencari Tuhan yang tidak diiringi dengan pengakuan akan kelemahan dan keterbatasan akalnya. Dia akan merasa bahwa pengetahuannya terhadap Tuhan adalah yang terbaik dibanding pengetahuan yang lainnya, dan kesombongan intelektual terhadap sesamanya pun akan menjangkiti hatinya. Semoga kita dijauhkan dari hal itu. 

Jenis-jenis Religiusitas


Jenis-jenis Religiusitas
Abdol Karim Soroush

Kata-kata identik seringkali menipu
Orang mukmin dan orang kafir tampak identik dalam bentuk
Mengambil kata-kata tunggal dan jamak pertengkaran mengikuti
Satu makna yang tepat, ketenangan mengikutinya

Salah keputusan kerap kali muncul dari fakta bahwa suatu istilah tunggal bias membawa pengertian ganda atau suatu pengertian tunggal bias bertmu dalam nama-nama yang berbeda. Mencapai keputusan seragam mengenai makna-makna ganda tersebut ataupun membuat keputusan ganda mengenai pengertian tunggal tersebut tidak lain daripada kesalahan atau kesesatan. Dan memisahkan kata-kata yang terkunci merupakan tugas semua pencari pengetahuan. Religiusitas termasuk salah satu dari istilah tersebut.

Ketika kita bertanya kepada diri sendiri: ‘Manakah yang lebih religious antara masyarakat Iran di bawah Dinasti Qajar dengan masyarakat Iran sekarang? Apakah masyarakat Barat modern lebih religious daripada masyarakat di Abad Pertengahan? Satu keeping pemikiran dan refleksi membawa kita kepada realisasi tersebut yang – kecuali jika kita mengklarifikasi dan memisahkan strata agama yang berbeda – kita tidak pernah menemukan jawaban terhadap pertanyaan kita tersebut. Adalah mungkin saja bahwa masyarakat sekarang lebih religious dalam satu pengertian dan juga kurang religious dalam pengertian lain. Dengandemikian, membedakan jenis-jenis dan strata relitiusitas yang berbeda merupakan suatu prasyarat teori religious dan pengetahuan serta prakondisi reformasi.

Apabila kita mengambil jumlah peringatan duka cita, puasa, air mata, doa, lilin-lilin, para peziarah, membungkuk di hadapan ulama, maka periode Qajar akan muncul sebagai yang terdepan. Jika kita mengambil studi-studi krisis, opiniopini, dan perdebatan tentang agama, kita sangat mungkin menemukan masyarakat sekarang lebih religious dan lebih religion-minded. Ketika kita menyelidiki materi tersebut lebih jauh dan melihat bahwa setiap jenis religiusitas menawarkan interpretasi yang berbeda ihwal Tuhan, Nabi, dosa, ketaatan, kebahagiaan, dan kesedihan, maka kita akan lebih melihat secara jelas daya tarik dan sensitifitas persoalan tersebut.

Membedakan jenis-jenis religiusitas yang berbeda tentu saja bukan suatu gagasan baru atau inovatif. Ketika Quran suci membahas tentang yamin (golongan kanan) dan al-sabiqun (golongan paling dulu), ia tengan menawarkan suatu cara untuk membedakan jenis-jenis religiusitas yang berbagam. Dan sarjana-sarjana agama, yang membahas legalistic, metodistik, dan agama idealistic ataupun agama inisiasi, median dan kulminasi, sedang menyentuh pada kebenaran yang sama ini.

Artkel ini juga akan menapilkan, secara ringkas, suatu kategorisasi jenis religiusitas yang berbeda yang memiliki perbedaan-perbedaan dan persamaan dengan pembagian-pembagian yang disebutkan. Kami akan menyebutkan tiga jenis religiusitas: (i) religiusitas pragmatis (atau utilitarian);(ii) religiusitas gnostik; dan (iii) religiusitas eksperimental.

Religiusitas pragmatis

Pada jenis religiusitas ini, suatu pandangan atau tujuan tindakan akhir, kegunaan dan hasilnya (bersifat duniawi sekarang ataupun yang akan dating) merupakan kepentingan puncak bagi orang-orang beriman. Ia merupakan suatu agama untuk kehidupan (tidak sinonim dengan “kehidupan” atau lebih tinggi dari kehidupan).

Dalam bentuk akhiratnya yang hakiki, ia mengenakan busana asketisisme dan sufisme (Khwajah Abdullah Anshary) dan dalam bentuk lahirnya, busana politik dan kenegaraan (Sayyid Jamal al-Din al-Afghani, dan lain-lain). Blok pusatnya adalah emosi dan rasionalitas praktis. Di kalangan massa umum aspek emosional memperoleh kemajuan. Dan di kalangan terpelajar rasionalitas praktik yang dipaparkan, yakni untuk mengatakan kemampuan untuk menyandingkan sarana-sarana kepada tujuan-tujuan.

Religiusitas pragmatis bersifat keduniaan, kausal, turun-temurun, deterministic (tidak muncul dari pilihan atau kehendak bebas), emosional, dogmatis, ritualistic, ideologis, terikat-identitas, eksternal, kolektif, legalistic-yuristik, mistis, imtatif, patuh, tradisional dan habitual. Di sini, kekerapan perbuatan merupakan ukuran intensitas atau sebaliknya dari keyakinan: melakukan ibadah haji berkali-kali, berziarah ke makam-makam, shalat sebanyak-banyaknya dan seterusnya. Melalui perbuatan-perbuatan ini, seseorang merasa lebih berhasil dalam agama dan dekat dengan Tuhan. Ritual-ritual massa menumbuhkan sikap religiusitas ini lebih daripada yang lainnya.  …

Silabus Filsafat Islam

Jumat, 20 April 2012


Silabus Filsafat Islam

1. Pengertian Filsafat Islam ; sejarah dan perkembangannya
2. Filsafat, ilmu dan agama
3. Kontribusi para filsuf muslim terhadap pemikiran barat modern
4. Nalar-nalar Islam
5. Era kemunduran filsafat Islam
6. Al-Kindi tentang Tuhan dan Manusia
7. Al-Farabi tentang Tuhan dan manusia
8. Ibnu Sina Tuhan, alam dan manusia
9. Ibnu Maskawaih riwayat hidup dan pemikirannya tentang akhlak
10. Al-Ghazali; riwayat hidup dan pemikirannya tentang akhlak dan pendidikan
11. Suhrawardi ; riwayat hidup dan pemikirannya tentang epistemologi
12. Ibnu Rusyd; riwayat hidup dan pemikirannya tentang Tuhan, alam dan manusia
13. Mula sadra riwayat hidup, karya dan pemikirannya tentang epistemologi
14. Ibnu Thufail; riwayat hidup dan pemikirannya


Nb; diarapkan kepada kawan-kawan membuat resensi sebanyak 2 lembar  TM 12 1 spasi tentang judul yang akan didiskusikan.

Eksistensialisme Karl Jaspers; Humanisme Baru

Sabtu, 31 Maret 2012


                 
Karl Jasprs dilahirkan pada tanggal 23 Februari 1883 di Oldenburg, Westphalia. Ayahnya seorang ahli hokum dan menjabat sebagai presidentdirektur sebuah bank; sedangkan ibunya Henrietta Tantzen, berasal dari keluarga petani. Pada tahun 1910 ia menikah dengan Getrude Mayet, putrid keluarga Yahudi yang saleh. Karl Jaspers mempunyai latar belakang pendidikan yang bermacam-macam,dan oleh karena belakangnya ini maka filsafatnya juga menunjukan keluasan,yaitumeliputi berpa bidang seperti  ; psikologi, politik, pengaruh teknologi terhadap kehidupan manusia,dan kemanusiaan, dan sejumlah bahsan-bahasan filsafat-filsafat masa sebelumnya.akan tetapi Karl Jaspers menjulang diantara tokoh-tokoh filsafat pada abad ini sebagai tokoh eksistensialis, yang mempunyai corak tersendiri. 

B.     Pemikirannya
Pada tahun 1919terbitlah karya besarnya yang berjudul psichologie der Weltanschauungen. Dengan karyanya ini maka Jaspers lebih nyatatampil sebagai seorang filosof. Walaupun pada tarap iniJaspers belum menyusun suatu filsafat yang khas filsafatnya sendiri, namun secara tidak langsung Jaspers sudah mulai mendapatkan landaasannya untuk kemudian membangun filsafatnya sendiri yang tidak bertentangan dengan anggapannya mengenai adanya pandangan- dunia yang berbeda-beda, tidak tunggal dan tidak universal, apalagi Mutlak.   
Sesuai dengan anggapanya bahwa perbedaan-perbedaan pandangan dunia itu menimbulkan juga perbedaan-perbedaan dalam pengamatan terhadap kenyataan dan penerimaan kebenaran, maka Jaspers menolak kemungkinan disusunya suatu ontology yang universal. Karena baginya ontology yang demikian itu tidak mungkin,sebab pandangan kita  tentang apa yang esensial itu akan berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan karena karena dunia yang kita amati adalah selalu tampil sebagai pengalaman pemisahan subyek-obyek ; kita sebagai subyek dunia sebagai obyek. Dan sebagai subyekkita berbeda-beda,oleh karenanya maka dalam pengamatan kita masing-masing dunia kita pun berbeda ragamnya.
 Setiap mansia dalam situasinya sendiri-sendiri tampil dengan kekhususannya dalam mengamati dunianya,oleh karena itu tidakmungkin kit samai pada penemuan esensi yang tunggal, yang universal dan mutlak.
Jaspers tidak menolak bahwa esensi yang mutlakitu ada, akan tetapi ia menegaskan bahwa tidak akan mampu menemukannnya dalam dunia yang kita hadapi sebagai obyek. Selamakita mendalami dunia ini dengan penghayatanpemisahan subyek-obyek, makadunia yang hadapi adalah dunia yang fenomenal semata-mata ; yaitu dunia sebagaimana tampilannya pada kita, atau : suatu dunia yang kita diami ini, tampil dengan sesuatu pengaturan dimungkinkan oleh kemampuan sitesis daripada intuisi dan pengertian kita.Jaspers memperingaktkan dalam hal ini bahwa :
“segala sesuatu yang ada harus kita obyektifikasikan berupa bentuk-bentuk, kita jadikan fenomen bagi kita, adanya sebagaimana kita ketahui, dan adanya pad sendirinya. Apa yang ada itu bukan obyek di hadapan kita,…. Bukan juga subyek.”
Dikotomi subyek-obyek ini akan menyertai kita slalu dalam usaha menamati, memahami dan menghayati kenyataan. Juga dalam hal kita mengamati diri kita sendiri. Jaspers menggunakan sutu contoh,betapa kita sebenarnya membelah diri bilamana kita melakukan pengamatan terhadap diri endiri.kalau kita menjadikan diri kita sendiri sebagai obyej pemikiran, maka sebagian dari diri kita itu kita hayati sebagai obyek. Dengan kata lain :kita sebagai subyek memikirkan tentang diri kita asebagai obyek,dan sebagai obyek kita adalah sesuatu yang lain dari kita sebagai subyek. 
Pandangan Jaspers tentang Tuhan tidaklah mudah dijelaskan dalam suatu pengaturan yang ringkas. Namun akan coba uraokan sebaik mungkin dalamhaliniia berpendapat bahwa Tuhan kepecayaan adalah Tuhan yang jauh tuhan yang tersembunyi, Tuhan yang tidak bisa dipertunjukan. Oleh karenanya maka saya harus mengakui bahwa saya tidak tahu akan Tuhan, bahakan tak athu saya percata (terhadapnya)
Bagi Jasper manusia adalah suatu kebebasan.dan kita makin sadar akan eksistensi diri kita sebagai kebeasan justru apabilakita dihadapkan pada imperative-imperatif. Demikian jga tanggapannya tentang Tuhan yang antara lain tampil kepada manusia sebagai sumber imperatif-imperatif.oleh karena itu maka Jaspers samapai pada kesimpulan bahwa makin sungguh-sungguh sadar sesorang tentang kebesannya, maka kuat kepastiannya tentang tuhan.
Bagi Jaspers maka Tuhan adalah pula sumber kebebasan,akan tetapi juga dalam kebebasan dalam kebesan Tuhan dapat ditemui. Oleh karena itu, maka Tuhan bagi Jasprs adalah suatu keterbukaan yang kunjung bekudalam penghayatan manusia.
 Sehubungan dengan itu pula Jaspers menolak kekuasaan-kekuasaan para pendeta Geraja yang yang ingin menjajikan gagasan tentang Tuhan sebagai suatu yang sudah berupa “barang jadi”, sesuatu yang sudah pasti. Baginya Jaspers kebeasan yang memungkinkan disadarinya Tuhan sbagai sesuatu yang ada. Tuhan tidak bisa disajikan sebagi obyek,tidak bisa juga dibuktikan dengan argument-argumen belaka. Penyajian tuhan dngan carademikian hanayalah mencoba untuk membirkan kepastian yang final.    akan tetapi juga sekaligus juga tindakan yang mnjadikan Tuhan sebagai obyek dikotomi Subyek-Obyek .
Maka baiginya, eksistensi bukanlah sesuatu yang final. Eksistensi justru tidak berkepastian dan tidak final. Yang benar ialah adanya situasi-situasi batas yang kita almi dalam eksistensi kita masing-masing. Situasi –situasi batas tidak dapat kita hindari ; kta bisa berusaha menhadapi serta mengatasinya, akan tetapi idak mungkin kita menklukannya. Justru mungkin kitalah yang akan diberantakan oleh karenanya. Istilah situasi-situasi bukanlah yng pertamakalinya diungkapan oleh Jaspers, situsi-situsi itu adalah keterkaitan kita pada situasi tertentu; situasionalitas.   Kita bisa menghindarka diri dari suatu situasi,kita bisa melarikan diri dari suatu situasi,namun ini akan berujung pada bahawa kit akan tiba pada situasi lainya. Kenyataan bahawa ada sebagai manusia adalah selalu ada-dalam-situasi tetrtentu tidakmungkin dihindari oleh manusia. “Manusia adalah manusia dalam situasi”.
Demikan juga halnya dengan situasi- batas yang kita alami dengan peristiwa-peristiwa kebetuln yang kita berpengaruh pada rencana-rencana kita. Bisa saja sesorang menginginkan sesuatu, akan tetapi apa yng diinginkan bisa saja berubah secara tiba-tiba tanpa rencana oleh suatu peristiwa yang kebetulan terjadi tnpa rekayasa dan rencana.
Sebagai kenyataan manusia ada sebagai dua segi. Di satu pihak ia ada sebagai suatu fakata belaka, suatu Dasein, akan tetapi di lain pihak ia adalah eksistensi yang kongkrit dalam situasi ruang dan waktu sebagai ekisistensi ia mghayati dirinya sebagai suatu diri yang mengada,” seblt –sein”. Kita bisa mempelajari manusia sebagai Dasein , yaitu dengan menempatkan manusia sebagai obyek pada diri kita. Inilah yang dilakukan ilmu-ilmu pengetahuan yang menyangkut manusia. Ilmu-ilmu pengetahuan ini tidak akan peranah mencapai pegetahuan yang menyeluruh tentang manusia sebgai eksistensi, manusia hanyalah bisa disoroti bebarapa ungkapannya saja. Inilah yang olh Jasprs disebut sebagai “ Eksistensz- erhellung” akan tetapi ada sebagai mnusia tidak berhetnti pada eksistensinya saja : sebagai kebebasan, maka eksistensinya mau lebih lanjut lagi bergerak, yaitubergerak kearah transendensi,atau Tuhan. Dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa Transendensi atau Tuhan dalah Justru menjadi jainan bagi manusia untuk menghayati eksistensinya sebagai kebebasan.      
Sebagai ekisitensi, manusia sellu menemui dirinya berada dalam situasi tertentu. Lebih dari itu manusia hanyalah mungkin menjalani eksistensinya bilamana ia berda bersama orang-orang lain. Dengan bahasa yang lebih kongkrit Jaspers menegaskan bahwaeksistensi hanya mungkin dalam melalui kehidupan bermasyrakat. Ini bebrati bahawa manusia selalu terlibat dengan peristiwa-peristiwa dalam situasi-situasi yng sisial sifatnya. Cara manusia berhubungan dengan situasi-situasi social ini bisa bermacam-macam. Ia bisa saja menyerah pada segala suatu situasi social tanpa mersa mampu atau perlu mempertahankan dirinya sendiri sebagai sutu kesejatian, dan dengan demikian membiarkan diri  hanyut saja dalam kehidupan bersama tanpa identitasnya sendiri. Bagi Jaspers cara berhubungan dengan situasi social yang demikin itu menggagalkan seseorang untuk tampil dengan kesejatian dirinya.
Salah satu yang khas pada pemikiran eksistensial Jaspers adalah bahwa ia menilai kehidupan bermasyarakat sebgai sesuatu yang positif. Dan ia juga berkesimpulan bahwa salah satu sebab timbulnya krisis dalam masyarakat manusia dewasa ini  ialah dkarnakan makon meratanya corak kehidupan bersama dalam bentuk massa. Dan salah satu akibat yang ditimbulkan oleh bentuk kehidupan massa dalam abad teknologi in adalah despiritualisasi dunia ini serta ditundukannya pada rezim teknik yang maju.  
C.                        
                Penutup
 Apa yang dibahas oleh Jaspers tentang hal-hal tersebut diatas  bertujuan untuk mengajak kita menumbuhkan suatu humanisem baru, humnisme yang mampu mengatasi frustasi-frustasi abad Modern. 

KEMURNIAN FALSAFAH ISLAM


Oleh: Dedi Sutiadi
Kemajuan pemikiran, terciptanya tiang-tiang peradaban islam, terbentuknya masyrakat yang Tamaddun, dan terlahirnya terobosan-terobosan baru yang mampu mengembangkan dan memperbaharui ilmu pengetahuan dengan sangat gemilang yng diawali di abad ke-8 dan 9 lewat gerakan penerjemahan masal untuk seluruh bidang keilmuan dan pengetahuan  bukanlah semata-semata refleksi dari karya-karya yunani yang mereka terjemahkan dan kemudian dipelajari, atau dengan kata lain bukanlah semata-mata kerena membaca buku-buku terjemahan yunani kemudian mereka terinpirasi penuh dari bacaan teks-teks Yuanani itu.

Karena jauh sebelum Islam menemukan karya Yunani di syiria dan Persia, beberapa kalangan masyarakat sudah mengenal suatu peradaban dan menguasi bebrapa ilmu-ilmu praktis seperti Ilmu kedokteran, `Ilmu Falaq (astronomi), Ilmu Kimia, Matematika, dll. Bahkan yang menjadi nilai plus adalah merekapun memahami dan menguasi Ilmu-ilmu agama seperti ; Tafsîr, Fiqh, Teologi, Tasauf, dll. Yang semuanya itu terinpirasikan dari Al-Qur`ân dan Hadits Nabi SAW. Literlak mutlak namun disanalah akal berperan, yang memang Allah simbolkan dengan mengsiratkan kata Al- Hikmah   dalam Al-Qur`ân.

Dengan relitas ini jelas bahwa Pemikir-pemikir Islam bukan mempelajari lalu mejiplaknya, karena tidak setiap hal dipelajari dari sesuatu kemudian ditiru sepuhnya, tentu tidak demikan. Namaun disni Islam dapat membuktikan bahwa Islampun sanggup menciptakan barang baru yang orisinil.

Dalam hal ini kaum muslimin telah berperan dalam dua bentuk ; pertama, sebagai penyelamat warisan-warisan Aristoteles, ptolemi, Galen, dll. Sehingga dapat dinikmati oleh dunia dewasa ini. Kedua, sebgai pencipta yang mampu mengangkat derajat manusia ketika dunia sedang ditutup kegelapan pemikran sehingga munculah islam dengan tamddunnya ke puncak peradaban dunia. Ilmu pengetahuan dengan segala cabang dan rantingnya berkembang pesat sehingga dapat dinikmati oleh manusia sejagad. Segalanya ini merupakan hasil dari zaman terjemah yang telah mendahului kebangkitan ilmu pengetahuan ini.
Kecenderungan kaum muslimîn untuk berfilsafat didahului oleh kecenderungan mereka dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu praktis seperti ilmu Kedokteran, `Ilmu  Falaq (Astronomi), Ilmu Matematika, fisika, dll yang hal tersebut sebelumnya diketahui hanya sebatas pengetahuan deduktif yang belum teruji keontikannya, ilmiah dan ilmiah. Yang memang walau sebatas itu namun  pada masa itu amat berguna di dalam menanggulangi problema yang dialami oleh masyarkat dalam kehidupan sehari-hari. Namun dengan berkembangnya ilmu-ilmu tersebut semakin banyak masalah yang belum terpecahkan, karena itu mereka mempelajari filsafat lewat teks-teks terjemahan Yunani sebagai salah satu usaha dan alat untuk memecahkan masalah ini. Jadi ditekankan bahwa filsafat yunani sekali lagi bukanlah sumber isnpirasi orang muslim untuk berfilsafat dan kemudian meredleksi ilmu-ilmu lainya, namun filsafat yunani merupakan salah satu alat dan metode yang mengarah kesana.

Hal diatas diperkuat bahwa dalam hal ilmu-Pengetahuan, Bangsa Arab (Muslimîn) jauh meninggalkan bangsa yunani. Peradaban Yunani pada esensinya, adalah ibarat sebuah kebun subur yang penuh dengan bunga-bunga indah namun tidak banyak berbuah. Perdaban Yunani itu adalah suatu perdaban yang kaya dalam filsafat dan sastra, tetapi miskin dalam teknik dan teknologi. Karena itu merupakan suatu usaha bersejarahdari Arab dan Yunani Islamik (yang terpengaruh oleh peradaban Islam- NM) bahwa mereka mendobrak jalan buntu Ilmu pengetahuan yunani itu, dengan merintis jalan ilmu pengetahuan baru. Menemukan konsep Nol, tanda Minus, bilangan-bilangan irasionaldan meletakan ilmu kimia baru.

Karena itu, tidak heran kemudian daerah-daerah yang dikuasai Islam lebih maju daripada perkembangan di Yunani sendiri, karena pada sejarahnya Yunani memang sudah tidak mengembangkan Filsafat dan Ilmu-ilmu lainya, bahkan berkesan budaya berfalsafah dan meneliti sudah mereka tinggalkan dan membiarkanya begitu saja. Maka di tengah penjelasan saya tadi bahwa isamlah yang sangat berperan menyelamtkan dan memperkenalkan para tokoh pemikir dan Subtansi pemikranya.

Memang dibanding di Yunani, Filsafat lebih berkembang diluar yunani seperti Mesir, Syria, Persia, India, dan Yudinshapur. Yang terkenal dengan pergerkan Helenisasi dengan paham Helenisasi. Dan disanalah kemudian Islam dengan corak Falsafahnya menjelma menjadi pemikran-pemikran yang falsafi dan memberikan banyak kontribusi dengan berbagai Ilmu pengetahuan, dan menjelma menjadi pemikran yang falsafi dan Qurâni untuk memperkuat prinsip-prinsip Agama Islam.

                                                                                                                               

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Afif Amrullah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger