bnrt

Eksistensialisme Karl Jaspers; Humanisme Baru

Sabtu, 31 Maret 2012


                 
Karl Jasprs dilahirkan pada tanggal 23 Februari 1883 di Oldenburg, Westphalia. Ayahnya seorang ahli hokum dan menjabat sebagai presidentdirektur sebuah bank; sedangkan ibunya Henrietta Tantzen, berasal dari keluarga petani. Pada tahun 1910 ia menikah dengan Getrude Mayet, putrid keluarga Yahudi yang saleh. Karl Jaspers mempunyai latar belakang pendidikan yang bermacam-macam,dan oleh karena belakangnya ini maka filsafatnya juga menunjukan keluasan,yaitumeliputi berpa bidang seperti  ; psikologi, politik, pengaruh teknologi terhadap kehidupan manusia,dan kemanusiaan, dan sejumlah bahsan-bahasan filsafat-filsafat masa sebelumnya.akan tetapi Karl Jaspers menjulang diantara tokoh-tokoh filsafat pada abad ini sebagai tokoh eksistensialis, yang mempunyai corak tersendiri. 

B.     Pemikirannya
Pada tahun 1919terbitlah karya besarnya yang berjudul psichologie der Weltanschauungen. Dengan karyanya ini maka Jaspers lebih nyatatampil sebagai seorang filosof. Walaupun pada tarap iniJaspers belum menyusun suatu filsafat yang khas filsafatnya sendiri, namun secara tidak langsung Jaspers sudah mulai mendapatkan landaasannya untuk kemudian membangun filsafatnya sendiri yang tidak bertentangan dengan anggapannya mengenai adanya pandangan- dunia yang berbeda-beda, tidak tunggal dan tidak universal, apalagi Mutlak.   
Sesuai dengan anggapanya bahwa perbedaan-perbedaan pandangan dunia itu menimbulkan juga perbedaan-perbedaan dalam pengamatan terhadap kenyataan dan penerimaan kebenaran, maka Jaspers menolak kemungkinan disusunya suatu ontology yang universal. Karena baginya ontology yang demikian itu tidak mungkin,sebab pandangan kita  tentang apa yang esensial itu akan berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan karena karena dunia yang kita amati adalah selalu tampil sebagai pengalaman pemisahan subyek-obyek ; kita sebagai subyek dunia sebagai obyek. Dan sebagai subyekkita berbeda-beda,oleh karenanya maka dalam pengamatan kita masing-masing dunia kita pun berbeda ragamnya.
 Setiap mansia dalam situasinya sendiri-sendiri tampil dengan kekhususannya dalam mengamati dunianya,oleh karena itu tidakmungkin kit samai pada penemuan esensi yang tunggal, yang universal dan mutlak.
Jaspers tidak menolak bahwa esensi yang mutlakitu ada, akan tetapi ia menegaskan bahwa tidak akan mampu menemukannnya dalam dunia yang kita hadapi sebagai obyek. Selamakita mendalami dunia ini dengan penghayatanpemisahan subyek-obyek, makadunia yang hadapi adalah dunia yang fenomenal semata-mata ; yaitu dunia sebagaimana tampilannya pada kita, atau : suatu dunia yang kita diami ini, tampil dengan sesuatu pengaturan dimungkinkan oleh kemampuan sitesis daripada intuisi dan pengertian kita.Jaspers memperingaktkan dalam hal ini bahwa :
“segala sesuatu yang ada harus kita obyektifikasikan berupa bentuk-bentuk, kita jadikan fenomen bagi kita, adanya sebagaimana kita ketahui, dan adanya pad sendirinya. Apa yang ada itu bukan obyek di hadapan kita,…. Bukan juga subyek.”
Dikotomi subyek-obyek ini akan menyertai kita slalu dalam usaha menamati, memahami dan menghayati kenyataan. Juga dalam hal kita mengamati diri kita sendiri. Jaspers menggunakan sutu contoh,betapa kita sebenarnya membelah diri bilamana kita melakukan pengamatan terhadap diri endiri.kalau kita menjadikan diri kita sendiri sebagai obyej pemikiran, maka sebagian dari diri kita itu kita hayati sebagai obyek. Dengan kata lain :kita sebagai subyek memikirkan tentang diri kita asebagai obyek,dan sebagai obyek kita adalah sesuatu yang lain dari kita sebagai subyek. 
Pandangan Jaspers tentang Tuhan tidaklah mudah dijelaskan dalam suatu pengaturan yang ringkas. Namun akan coba uraokan sebaik mungkin dalamhaliniia berpendapat bahwa Tuhan kepecayaan adalah Tuhan yang jauh tuhan yang tersembunyi, Tuhan yang tidak bisa dipertunjukan. Oleh karenanya maka saya harus mengakui bahwa saya tidak tahu akan Tuhan, bahakan tak athu saya percata (terhadapnya)
Bagi Jasper manusia adalah suatu kebebasan.dan kita makin sadar akan eksistensi diri kita sebagai kebeasan justru apabilakita dihadapkan pada imperative-imperatif. Demikian jga tanggapannya tentang Tuhan yang antara lain tampil kepada manusia sebagai sumber imperatif-imperatif.oleh karena itu maka Jaspers samapai pada kesimpulan bahwa makin sungguh-sungguh sadar sesorang tentang kebesannya, maka kuat kepastiannya tentang tuhan.
Bagi Jaspers maka Tuhan adalah pula sumber kebebasan,akan tetapi juga dalam kebebasan dalam kebesan Tuhan dapat ditemui. Oleh karena itu, maka Tuhan bagi Jasprs adalah suatu keterbukaan yang kunjung bekudalam penghayatan manusia.
 Sehubungan dengan itu pula Jaspers menolak kekuasaan-kekuasaan para pendeta Geraja yang yang ingin menjajikan gagasan tentang Tuhan sebagai suatu yang sudah berupa “barang jadi”, sesuatu yang sudah pasti. Baginya Jaspers kebeasan yang memungkinkan disadarinya Tuhan sbagai sesuatu yang ada. Tuhan tidak bisa disajikan sebagi obyek,tidak bisa juga dibuktikan dengan argument-argumen belaka. Penyajian tuhan dngan carademikian hanayalah mencoba untuk membirkan kepastian yang final.    akan tetapi juga sekaligus juga tindakan yang mnjadikan Tuhan sebagai obyek dikotomi Subyek-Obyek .
Maka baiginya, eksistensi bukanlah sesuatu yang final. Eksistensi justru tidak berkepastian dan tidak final. Yang benar ialah adanya situasi-situasi batas yang kita almi dalam eksistensi kita masing-masing. Situasi –situasi batas tidak dapat kita hindari ; kta bisa berusaha menhadapi serta mengatasinya, akan tetapi idak mungkin kita menklukannya. Justru mungkin kitalah yang akan diberantakan oleh karenanya. Istilah situasi-situasi bukanlah yng pertamakalinya diungkapan oleh Jaspers, situsi-situsi itu adalah keterkaitan kita pada situasi tertentu; situasionalitas.   Kita bisa menghindarka diri dari suatu situasi,kita bisa melarikan diri dari suatu situasi,namun ini akan berujung pada bahawa kit akan tiba pada situasi lainya. Kenyataan bahawa ada sebagai manusia adalah selalu ada-dalam-situasi tetrtentu tidakmungkin dihindari oleh manusia. “Manusia adalah manusia dalam situasi”.
Demikan juga halnya dengan situasi- batas yang kita alami dengan peristiwa-peristiwa kebetuln yang kita berpengaruh pada rencana-rencana kita. Bisa saja sesorang menginginkan sesuatu, akan tetapi apa yng diinginkan bisa saja berubah secara tiba-tiba tanpa rencana oleh suatu peristiwa yang kebetulan terjadi tnpa rekayasa dan rencana.
Sebagai kenyataan manusia ada sebagai dua segi. Di satu pihak ia ada sebagai suatu fakata belaka, suatu Dasein, akan tetapi di lain pihak ia adalah eksistensi yang kongkrit dalam situasi ruang dan waktu sebagai ekisistensi ia mghayati dirinya sebagai suatu diri yang mengada,” seblt –sein”. Kita bisa mempelajari manusia sebagai Dasein , yaitu dengan menempatkan manusia sebagai obyek pada diri kita. Inilah yang dilakukan ilmu-ilmu pengetahuan yang menyangkut manusia. Ilmu-ilmu pengetahuan ini tidak akan peranah mencapai pegetahuan yang menyeluruh tentang manusia sebgai eksistensi, manusia hanyalah bisa disoroti bebarapa ungkapannya saja. Inilah yang olh Jasprs disebut sebagai “ Eksistensz- erhellung” akan tetapi ada sebagai mnusia tidak berhetnti pada eksistensinya saja : sebagai kebebasan, maka eksistensinya mau lebih lanjut lagi bergerak, yaitubergerak kearah transendensi,atau Tuhan. Dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa Transendensi atau Tuhan dalah Justru menjadi jainan bagi manusia untuk menghayati eksistensinya sebagai kebebasan.      
Sebagai ekisitensi, manusia sellu menemui dirinya berada dalam situasi tertentu. Lebih dari itu manusia hanyalah mungkin menjalani eksistensinya bilamana ia berda bersama orang-orang lain. Dengan bahasa yang lebih kongkrit Jaspers menegaskan bahwaeksistensi hanya mungkin dalam melalui kehidupan bermasyrakat. Ini bebrati bahawa manusia selalu terlibat dengan peristiwa-peristiwa dalam situasi-situasi yng sisial sifatnya. Cara manusia berhubungan dengan situasi-situasi social ini bisa bermacam-macam. Ia bisa saja menyerah pada segala suatu situasi social tanpa mersa mampu atau perlu mempertahankan dirinya sendiri sebagai sutu kesejatian, dan dengan demikian membiarkan diri  hanyut saja dalam kehidupan bersama tanpa identitasnya sendiri. Bagi Jaspers cara berhubungan dengan situasi social yang demikin itu menggagalkan seseorang untuk tampil dengan kesejatian dirinya.
Salah satu yang khas pada pemikiran eksistensial Jaspers adalah bahwa ia menilai kehidupan bermasyarakat sebgai sesuatu yang positif. Dan ia juga berkesimpulan bahwa salah satu sebab timbulnya krisis dalam masyarakat manusia dewasa ini  ialah dkarnakan makon meratanya corak kehidupan bersama dalam bentuk massa. Dan salah satu akibat yang ditimbulkan oleh bentuk kehidupan massa dalam abad teknologi in adalah despiritualisasi dunia ini serta ditundukannya pada rezim teknik yang maju.  
C.                        
                Penutup
 Apa yang dibahas oleh Jaspers tentang hal-hal tersebut diatas  bertujuan untuk mengajak kita menumbuhkan suatu humanisem baru, humnisme yang mampu mengatasi frustasi-frustasi abad Modern. 
Share this article :

1 komentar:

Un4 Zanaya mengatakan...

kecerdasan seseorang bisa di lihat dari tulisannya, bahsa yang bagus tanpa berbekas kurang begitu sempurna.sangat disayangkan jika cerdas hanya dalam argumentasi saja, maka dari itu mari kita budayakan literasi kita khususnya kader USHULUDDIN DAN SOSPOL....!!!! SEMANGAT.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Afif Amrullah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger